Ada yang bilang, setiap hubungan punya pasang dan surut. Saat-saat indah dan saat-saat menjengkelkan. Saat-saat kita terlalu mencintai, hingga saat-saat kita kehilangan kepercayaan bahwa di suatu waktu yang lalu kita pernah mencintai.
Untuk setiap kali kepercayaan itu hilang, semoga kau mengerti bahwa sesungguhnya kaki ini tak pernah beranjak jauh darimu. Maka acuhkan saja. Anggap kemarahan ini hanyalah sebuah reaksi spontan dari ledakan emosi yang tak rasional.
Jadi jika aku menengok, kuminta kau pun masih berdiri di situ. Di titik yang sama ketika kita terakhir bertemu....
Nanti, kuikatkan sebuah cincin dari ilalang di kelingkingmu
Cheers,
-ajeng-
Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts
13.3.09
23.1.09
status: it's complicatedly engaged
e.n.ga.ge.d.....what a big word!
so now what, we exchange rings? will it be as easy as exchanging liquids in our mouth? or is it a little bit more complicated than that?
and than what? suddenly the idea of pending the 'i do' was somehow not as silly as you thought. i mean, what if:
- i can't tolerate anymore of the stupidly selfish habits of yours?
- i got sick at your work-hour, day sleeper and night crawler?
- i smell your morning breath and it just makes me wanna puke?
- i don't even wanna look at your feet? it's too hairy...
- i disagree with your political view?
- i decided i don't really want to understand you?
- after a couple of years, i thought, the sex isn't so good anyway?
probably for the oddly same reasons you think
- how stubborn i could be and oh, how annoying
- how bad i dress, at any occasion
- how i could grow fat faster than a lizard grow its tail
- how bitter my coffee is, and nothing i cook is eat-able
what if i leave you. or worse, you leave me...
drama.drama.drama.
Cheers,
-ajeng-
so now what, we exchange rings? will it be as easy as exchanging liquids in our mouth? or is it a little bit more complicated than that?
and than what? suddenly the idea of pending the 'i do' was somehow not as silly as you thought. i mean, what if:
- i can't tolerate anymore of the stupidly selfish habits of yours?
- i got sick at your work-hour, day sleeper and night crawler?
- i smell your morning breath and it just makes me wanna puke?
- i don't even wanna look at your feet? it's too hairy...
- i disagree with your political view?
- i decided i don't really want to understand you?
- after a couple of years, i thought, the sex isn't so good anyway?
probably for the oddly same reasons you think
- how stubborn i could be and oh, how annoying
- how bad i dress, at any occasion
- how i could grow fat faster than a lizard grow its tail
- how bitter my coffee is, and nothing i cook is eat-able
what if i leave you. or worse, you leave me...
drama.drama.drama.
Cheers,
-ajeng-
15.1.09
Oh The Things You (Women) Do for Love
When it comes to love and pairing, how come women always have to become the less powerful ones?Gue inget ada sebuah pembelaan yang sedikit menyedihkan dari sebuah film, gue lupa apaan judulnya, "Memang lelaki adalah kepala keluarga, tapi wanita adalah leher yang menggerakkan kepala."
Really?
Over the century, women has become an object to many kind of violance, often in their own houses, by thier own husbands. Gimana caranya mengenali bibit-bibit kekerasan ini sejak awal, for example, sejak pacaran? Well, you could read yourself many kinds of magazines and self-help books for inspiration.
Ah, ini bukan sebuah teriakan protes dari seorang wanita kok. Malah wanita yang ini sepertinya sedang mencicipi sebuah sensasi baru, yang didapat dari sebuah bentuk penghambaan yang aneh. Well, enough about this boring woman, I have another story.
Gimana kalau laki-laki itu, dalam jangka waktu yang relatif lama, memegang sepenuhnya kemauan untuk berdiam. Memberi sinyal-sinyal positif tentang kemungkinan. Tapi tetap, diam?
Gimana kalau laki-laki itu, dalam jangka waktu yang lama, hanya menerima dan menjangkau, tidak memberi atau mengulurkan tangan?
Gimana kalau laki-laki itu, dalam jangka waktu yang sangat lama, menggerogoti kepercayaan diri seorang wanita hingga keropos??
Wanita itu menunggu. Wanita itu menunggu. Wanita itu hanya menunggu.
Apa yang akan kepala lakukan, jika leher hanya termangu?
Cheers,
-ajeng-
12.1.09
It's a Guilty Pleasure
Gara-gara gue harus bikin artikel soal blog-blog artis buat edisi depan, mau ngga mau gue harus cari blog artis yang bagus dan ngga 'kacangan'. Jadi deh, satu demi satu blog-blog artis itu gue baca dan telaah baik-baik *heleh*... some are not bad, but some are actually good :)
Saking noraknya, kalo emang mo disebut norak, gue sampe nge-follow blog2 yang gue pikir bagus itu, huhuhuh...
Karena gue emang suka sama tulisannya Dewi Lestari, gue jadi rajin baca Dee's Idea, blog pribadi dia. Terus, sedikit diluar ekspektasi gue, ternyata Christian Sugiono blognya juga oke. Funny and witty. Sukses membuat gue berpikir: cowo ini ganteng, tajir, pinter, dan... lucu! I mean, how many of this kind of men actually exist??? hmm...
Jadiii...membaca blognya Christian Sugiono adalah guilty pleasure gue yang baru, hihihi... malu ah...
Cheers,
-ajeng-
Saking noraknya, kalo emang mo disebut norak, gue sampe nge-follow blog2 yang gue pikir bagus itu, huhuhuh...
Karena gue emang suka sama tulisannya Dewi Lestari, gue jadi rajin baca Dee's Idea, blog pribadi dia. Terus, sedikit diluar ekspektasi gue, ternyata Christian Sugiono blognya juga oke. Funny and witty. Sukses membuat gue berpikir: cowo ini ganteng, tajir, pinter, dan... lucu! I mean, how many of this kind of men actually exist??? hmm...
Jadiii...membaca blognya Christian Sugiono adalah guilty pleasure gue yang baru, hihihi... malu ah...
Cheers,
-ajeng-
9.1.09
Mungkin Kedamaian Itu Akan Terengkuh Selamanya, Jika Kita Sedikit Bersabar Lagi
demi kata-kata yang lincah mengalir dari bibirmu,
maka aku telah menemukan makna cinta dalam diriku...
maka aku telah menemukan makna cinta dalam diriku...
Makna itu adalah kedamaian.
Sepertinya sudah lama berlalu, sejak kesepakatan bagi kita berarti perdebatan panjang semalam suntuk -yang meski kerap kali tak berakhir dengan mufakat- namun tak pernah menyurutkan keinginan kita untuk saling menautkan jari-jemari ketika terlelap.
Sepertinya sudah lebih lama lagi berlalu sejak pertengkaran 'akbar' yang terakhir. Yang melibatkan teriakan-teriakan frustasi dan adrenalin yang bergolak. Setelah itu, marah kita padamkan dengan sunyi. Nyaring kita gantikan dengan bisik.
Ah, kau berubah.
...demi kata-kata yang lincah mengalir dari bibirmu... (meski mungkin tidak selincah itu lagi)
...maka aku telah menemukan makna cinta dalam diriku... (makna yang baru)
ternyata bersidebat dengan tenang bisa jadi sangat mendamaikan, bukankah begitu?
Sepertinya sudah lama berlalu, sejak kesepakatan bagi kita berarti perdebatan panjang semalam suntuk -yang meski kerap kali tak berakhir dengan mufakat- namun tak pernah menyurutkan keinginan kita untuk saling menautkan jari-jemari ketika terlelap.
Sepertinya sudah lebih lama lagi berlalu sejak pertengkaran 'akbar' yang terakhir. Yang melibatkan teriakan-teriakan frustasi dan adrenalin yang bergolak. Setelah itu, marah kita padamkan dengan sunyi. Nyaring kita gantikan dengan bisik.
Ah, kau berubah.
...demi kata-kata yang lincah mengalir dari bibirmu... (meski mungkin tidak selincah itu lagi)
...maka aku telah menemukan makna cinta dalam diriku... (makna yang baru)
ternyata bersidebat dengan tenang bisa jadi sangat mendamaikan, bukankah begitu?
-ajeng-
19.12.08
Single and Fabulous
Entah kenapa, sejak SMA gue bukan tipe orang yang bisa jadi single and fabulous. Not proud of it. Untuk satu dari ribuan gadis yang ingin menjadi Carrie Bradshaw, ini adalah fakta yang memalukan!
Rasanya ngga perlu gue jabarkan runtutan pria-pria mana aja yang silih berganti menjadi pasangan gue *as if itu penting, gituh..hehe*, tapi yang seingat gue, kalaupun akhirnya gue jomblo, pasti nggak akan lebih dari hitungan minggu.
Pada banyak kasus, gue mempersiapkan diri dulu (baca: mempersiapkan laki-laki lain) sebelum akhirnya putus dari pacar utama... Gue nggak mau sendiri. I felt insecure. Gue butuh seseorang untuk mengangumi gue, untuk mengatakan bahwa gue hebat, untuk memuja gue, dan untuk mengabdi gue. Sebagian mungkin karena gue nggak sanggup mengatakan hal-hal itu pada diri gue sendiri. Anjis, parah ya..
Diam-diam gue memandang tinggi seorang teman yang bisa berlama-lama ngga punya pacar. Yang masih bisa happy meskipun nggak berbagi hal-hal khusus dengan makhluk bernama lelaki. Meski gue ngga tau apa yang sebenernya dirasakan teman itu, tapi gue melihat wajah-acuh-nggak-butuh-cowok itu di sorot matanya, dan gue merasa dikhianati - oleh perasaan gue sendiri. Gue nggak bisa jadi dia.
Bagi gue, lo hebat.
Cheers,
-ajeng-
Rasanya ngga perlu gue jabarkan runtutan pria-pria mana aja yang silih berganti menjadi pasangan gue *as if itu penting, gituh..hehe*, tapi yang seingat gue, kalaupun akhirnya gue jomblo, pasti nggak akan lebih dari hitungan minggu.
Pada banyak kasus, gue mempersiapkan diri dulu (baca: mempersiapkan laki-laki lain) sebelum akhirnya putus dari pacar utama... Gue nggak mau sendiri. I felt insecure. Gue butuh seseorang untuk mengangumi gue, untuk mengatakan bahwa gue hebat, untuk memuja gue, dan untuk mengabdi gue. Sebagian mungkin karena gue nggak sanggup mengatakan hal-hal itu pada diri gue sendiri. Anjis, parah ya..
Diam-diam gue memandang tinggi seorang teman yang bisa berlama-lama ngga punya pacar. Yang masih bisa happy meskipun nggak berbagi hal-hal khusus dengan makhluk bernama lelaki. Meski gue ngga tau apa yang sebenernya dirasakan teman itu, tapi gue melihat wajah-acuh-nggak-butuh-cowok itu di sorot matanya, dan gue merasa dikhianati - oleh perasaan gue sendiri. Gue nggak bisa jadi dia.
Bagi gue, lo hebat.
Cheers,
-ajeng-
11.12.08
in a moment of solitude
Kesendirian seakan selalu terkonotasi dengan kesepian.
Gue sering melihat orang-orang meremehkan orang-orang yang sendirian, meskipun tak sepenuhnya kesepian. Memandang aneh kepada orang-orang yang makan sendirian, "Ih, tu orang ngga punya temen apa ya?"
Jaman gue kuliah dan masih menganut paham feminisme dan gothic-isme berlebih, gue sering banget kemana-mana sendiri dan merasa sombong. Bahwa 'sendiri' itu eksotis dan misterius, menambah daya tarik gue, hahaha. Ngga tau juga sih pikiran itu darimana.
Semakin gede, ternyata hakikat gue sebagai makhluk sosial mengambil alih. Karena dan untuk sesuatu yang normal, gue mulai menikmati nge-geng dan pergi kemana-mana seperti rombongan bison. Rame dan rusuh.
Lalu gue merindukan sendiri. Merindukan sepi. Merindukan nikmatnya merasakan dunia berpusat kepada diri sendiri, tak perlu berbagi. Walaupun cuma sehari tadi, tapi cukup membuat gue merasa legaaaa... I mean, legaaaaa..... ngga berebut udara sama orang lain. Bukannya gue merasa sumpek bareng temen-temen dan pacar di Jakarta, it's just another kind of delight I haven't felt for quite some time.
ah ya...sedikit oleh-oleh dari 'pertapaan' gue.... I know I'm not a pro photographer or anything, but I really like the pictures I took this afternoon. I think they're great.




*ok, cukup bertapanya...gue mo siap2 jalan, meeting an old friend, ahahahaha*
Cheers,
-ajeng-
Gue sering melihat orang-orang meremehkan orang-orang yang sendirian, meskipun tak sepenuhnya kesepian. Memandang aneh kepada orang-orang yang makan sendirian, "Ih, tu orang ngga punya temen apa ya?"
Jaman gue kuliah dan masih menganut paham feminisme dan gothic-isme berlebih, gue sering banget kemana-mana sendiri dan merasa sombong. Bahwa 'sendiri' itu eksotis dan misterius, menambah daya tarik gue, hahaha. Ngga tau juga sih pikiran itu darimana.
Semakin gede, ternyata hakikat gue sebagai makhluk sosial mengambil alih. Karena dan untuk sesuatu yang normal, gue mulai menikmati nge-geng dan pergi kemana-mana seperti rombongan bison. Rame dan rusuh.
Lalu gue merindukan sendiri. Merindukan sepi. Merindukan nikmatnya merasakan dunia berpusat kepada diri sendiri, tak perlu berbagi. Walaupun cuma sehari tadi, tapi cukup membuat gue merasa legaaaa... I mean, legaaaaa..... ngga berebut udara sama orang lain. Bukannya gue merasa sumpek bareng temen-temen dan pacar di Jakarta, it's just another kind of delight I haven't felt for quite some time.
ah ya...sedikit oleh-oleh dari 'pertapaan' gue.... I know I'm not a pro photographer or anything, but I really like the pictures I took this afternoon. I think they're great.
*ok, cukup bertapanya...gue mo siap2 jalan, meeting an old friend, ahahahaha*
Cheers,
-ajeng-
19.10.08
RACIST
Mungkin karena gue menghabiskan sebagian besar kehidupan gue di Jawa, yang ngga terlalu berjubel dengan orang-orang dari daerah lain. Kalaupun ada temen-temen gue yang berasal dari pulau yang perginya pake nyebrangin laut, merekalah yang bakal nyesuaiin sama custom kita di Jawa.
Di kota yang ramai ini, memberi label kepada seseorang yang punya latar budaya yang beda kayanya udah jadi hal yang biasa. Saking biasanya malah udah ngga berasa kalo perkataan-perkataan tertentu sebenernya sangat rasis, mungkin tadinya sensitif tapi saking terbiasanya ya udah...jadi sekadar jokes aja. Bukan sesuatu yang harus dipikirin.
Don't get me wrong. Gue bukan pembenci orang-orang yang bercanda dengan suku. Gue berteman baik dengan beberapa dari mereka malah. Dan gue udah ngga terkaget-kaget lagi kalo tiba-tiba salah satu temen gue menghujat teman yang lain:
"Dasar Batak....,"
"Ih, apaan sih lo Padang!"
"Lo juga, Jawir (jawa maksudnya)!!"
Dan daftarnya bisa lebih panjang kalo ditambah sama predikat-predikat yang melekat sama suku yang bersangkutan. Dan parahnya *buat gue pribadi*, gue jadi suka menyalahkan suku gue atas sikap-sikap gue yang ngga menguntungkan.
Kaya, "Karena gue orang Jawa kali ya, jadi ya pasrah aja." Duh, cemen banget ngga sih...
Apa gue lagi culture shock kali ya? Berarti lemot banget otak gue kalo emang iya, secara gue udah hampir dua tahun tinggal di Jakarta... Kayanya engga deh.
Mungkin karena sepanjang hari dalam minggu ini, atau sepanjang bulan dalam tahun ini, gue dan temen-temen gue *mungkin juga anda, pembaca setia* adalah orang Jakarta. Bukan orang Jawa, Padang, Sunda, dan Batak.. Tapi kenapa kita ngga bisa jadi "orang" aja? Tanpa embel-embel lain di belakangnya. Cuma "orang"...
A squirrel in the tree is he watching me
Does he give a damn?
Does he care who I am?
I’m just a man, is that all I am
Are my manners misinterpreted words or only human?
I’m human
-Only Human, Jason Mraz-
Cheers,
-ajeng-
14.10.08
Between John Bon Jovi, Ricky Martin and Kotaro Minami
Mengingat lagi masa kecil gue dulu, ternyata gue termasuk 'generasi Y' yang cukup parah terkontaminasi oleh televisi. Dari kotak keci berwarna itu, gue terperangah, terkagum, dan tersihir. Dan gue menemukan cinta....cieeeh... Well, kalo bisa disebut cinta sih... Hanya sebentuk cinta platonik antara seorang bintang dan penggemarnya.
Dan setelah gue inget-inget lagi, bukan cuma cinta pertama yang gue dapet dari televisi, tapi juga yang kedua, dan ketiga. Hehehe, maruk juga...
Eniwei, here are my celebrity crush(es), gue urutin dari yang pertama sampe yang terakhir *idih, penting banget apa ya*
1. John Bon Jovi
Cinta gue kepada pria cadas ini (wih, cadaas...) sebenarnya berawal dari audio, alih-alih visual. Jaman gue TK, bokap gue demen banget muter lagu-lagu Bon Jovi di tape recorder kami yang lumayan remuk. Tapi meskipun tingkat ke-bobrok-an tape itu udah mendekati akut, gue selalu terpana kalau mendengar suara John yang crispy-crispy gurih renyah itu. Gue pun menobatkan salah satu lagu band yang gue bahkan ngga tau namanya itu sebagai lagu favorit gue setelah lagu-lagu Anggun C Sasmi dan Ami Search. "Aiiiiii....wil loooop yuuuuu....beybeeeeeeeii..... Ooooolllllweeeesss," itulah sekelumit lirik yang ngga pernah gue lupa.
Cinta itu makin bertumbuh dan berkembang saat melihat John tampil di kotak ajaib ber-merk Panasonic di ruang keluarga kami. Dengan rambut panjang tak tersisir, kaus kutung dan jeans belel, syal dan IKAT RAMBUT!! Waaaaawwww...betapa gantengnya makhluk ituuuu, hahaha..
Cuman, kan waktu itu gue masih TK ya? genit amat ya gue???
2. Kotaro Minami
Pindah ke rumah nenek, gue sudah menginjak masa puber ni kayanya. Waktu itu gue kelas dua SD (huahahah, puber dari manaaaa???). Jaman itu, Ksatria Baja Hitam lagi happening banget!! Dan gue jatuh cinta pada Kotaro Minami (yang baru beberapa saat lalu gue ketahui bernama Tetsuo Kurata.)
Bayangin aja, selain dia itu pembela kebenaran, tampang orientalnya itu emang bener-bener cakep mendekati imut. Derajad kecakepan Kotaro juga bertambah berpuluh kali lipat setiap kali dia ber-priwiiiiit dan berteriak "Belalaaaang Tempuuurrr!!" Hahaha...
Gue ikut deg-deg plass setiap kali sang jagoan harus bertempur melawan Gorgom, si monster ikan pesut jahat berukuran raksasa yang cita-cita utamanya adalah menghancurkan dunia (dan selalu dimulai dari kota Tokyo). "Ayo dooong...keluarin Pedang Mataharinyaaaa," begitu gue kerap membisikkan do'a (alahh..).
Poster? Jangan tanya deh. Berhubung kakak cowok gue juga pecinta KBH sejati, dinding kamar dan dapur (dapur? ya...dapur) dipenuhi sama berbagai pose Kotaro plus bentuknya setelah "Berubah!!" menjadi Ksatria Baja Hitam, KBH RX, dan KBH RX Bio, hihihi...pokoknya mah cinta mati deh! Tapi cinta itu kandas setelah gue mendapati Gundala Putra Petir (ternyata ada versi Indonesianya, hehehe)
3. Ricky Martin
Siapa yang ngga suka cowok latin bercelana ketat yang tau gimana cara untuk 'shake his bom-bom'? Gue versi kelas enam SD nggak bisa nggak horny kalo ngeliat si Ricky beraksi di TV (parah amat ya gue? hehehe). Cinta itu membuncah di video klipnya yang berbahasa latin, Vuelve. Dan setiap tetes air hujan yang menyelimuti tubuh Ricky semakin menambah keseksiannya...
Tapi gue ragu ini cinta, mungkin hanya nafsu semata (halahhh...)
Cheers,
-ajeng-
Dan setelah gue inget-inget lagi, bukan cuma cinta pertama yang gue dapet dari televisi, tapi juga yang kedua, dan ketiga. Hehehe, maruk juga...
Eniwei, here are my celebrity crush(es), gue urutin dari yang pertama sampe yang terakhir *idih, penting banget apa ya*
1. John Bon Jovi
Cinta gue kepada pria cadas ini (wih, cadaas...) sebenarnya berawal dari audio, alih-alih visual. Jaman gue TK, bokap gue demen banget muter lagu-lagu Bon Jovi di tape recorder kami yang lumayan remuk. Tapi meskipun tingkat ke-bobrok-an tape itu udah mendekati akut, gue selalu terpana kalau mendengar suara John yang crispy-crispy gurih renyah itu. Gue pun menobatkan salah satu lagu band yang gue bahkan ngga tau namanya itu sebagai lagu favorit gue setelah lagu-lagu Anggun C Sasmi dan Ami Search. "Aiiiiii....wil loooop yuuuuu....beybeeeeeeeii..... Ooooolllllweeeesss," itulah sekelumit lirik yang ngga pernah gue lupa.Cinta itu makin bertumbuh dan berkembang saat melihat John tampil di kotak ajaib ber-merk Panasonic di ruang keluarga kami. Dengan rambut panjang tak tersisir, kaus kutung dan jeans belel, syal dan IKAT RAMBUT!! Waaaaawwww...betapa gantengnya makhluk ituuuu, hahaha..
Cuman, kan waktu itu gue masih TK ya? genit amat ya gue???
2. Kotaro Minami
Pindah ke rumah nenek, gue sudah menginjak masa puber ni kayanya. Waktu itu gue kelas dua SD (huahahah, puber dari manaaaa???). Jaman itu, Ksatria Baja Hitam lagi happening banget!! Dan gue jatuh cinta pada Kotaro Minami (yang baru beberapa saat lalu gue ketahui bernama Tetsuo Kurata.)Bayangin aja, selain dia itu pembela kebenaran, tampang orientalnya itu emang bener-bener cakep mendekati imut. Derajad kecakepan Kotaro juga bertambah berpuluh kali lipat setiap kali dia ber-priwiiiiit dan berteriak "Belalaaaang Tempuuurrr!!" Hahaha...
Gue ikut deg-deg plass setiap kali sang jagoan harus bertempur melawan Gorgom, si monster ikan pesut jahat berukuran raksasa yang cita-cita utamanya adalah menghancurkan dunia (dan selalu dimulai dari kota Tokyo). "Ayo dooong...keluarin Pedang Mataharinyaaaa," begitu gue kerap membisikkan do'a (alahh..).
Poster? Jangan tanya deh. Berhubung kakak cowok gue juga pecinta KBH sejati, dinding kamar dan dapur (dapur? ya...dapur) dipenuhi sama berbagai pose Kotaro plus bentuknya setelah "Berubah!!" menjadi Ksatria Baja Hitam, KBH RX, dan KBH RX Bio, hihihi...pokoknya mah cinta mati deh! Tapi cinta itu kandas setelah gue mendapati Gundala Putra Petir (ternyata ada versi Indonesianya, hehehe)
3. Ricky Martin
Siapa yang ngga suka cowok latin bercelana ketat yang tau gimana cara untuk 'shake his bom-bom'? Gue versi kelas enam SD nggak bisa nggak horny kalo ngeliat si Ricky beraksi di TV (parah amat ya gue? hehehe). Cinta itu membuncah di video klipnya yang berbahasa latin, Vuelve. Dan setiap tetes air hujan yang menyelimuti tubuh Ricky semakin menambah keseksiannya...Tapi gue ragu ini cinta, mungkin hanya nafsu semata (halahhh...)
Cheers,
-ajeng-
Labels:
bon jovi,
kotaro minami,
love,
lust,
ricky martin
Subscribe to:
Posts (Atom)