Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

22.3.10

mamamia! a mama!!

Right now, I really miss home

Rumah di Salatiga memang ngga seberapa. Sama sekali ngga mewah dan megah, kecil malah. Dengan tembok warna-warni yang menyekat ruang-ruang sempit menjadi 'ruang tamu', 'ruang tivi', 'dapur' dan 'kamar'...

Tapi di rumah kecil nan mungil itu, ada mama. Mama yang selalu sigap menyiapkan makanan, selalu punya buah-buahan di kulkas, selalu menyediakan kudapan tidak sehat di atas meja... *her way of showing love is mostly through our belly. But hey, I don't mind :)*

Tapi bukan cuma itu rasanya alasan knapa gw kangen rumah. Di rumah kecil itu juga, gw adalah seorang anak. Gw rasa sampai kapanpun gw akan tetep dianggap sbagai seorang anak disitu. Jadi ngga papa kalo gw manja2an minta disuapin mama. Atau bangun siang dan males2an sampe sore dan gak mandi. Atau nonton tv seharian, tanpa mikirin menu makan siang. Mama yg mikirin itu buat gw. Huhuhu, indahnya masa-masa itu :(

Sebentar lagi, gw yang jadi mama... Gw pengen anak gw nanti memiliki mama seperti mama yang gw punya... tapi emang gw bisa jadi mama yang seperti mama? Hmph...!!! Sepertinya tugas jadi mama berat sekali, ya, kawan-kawan? :(

2.7.09

it's a slap.... or a downfall

When someone who barely know you descibes your mistakes in detils, you could consider it as two things, a slap in your face or a downfall. A slap, as in a reminder that you have to introspect, that maybe somehow you are not doing a great job after all. Or a downfall, as in you will be fired in three months.

In all my entire life, I have never been fired before. When I have to end a working period, it's me quitting. Not fired. Well, most people said there will always be a first time. I never thought mine will be this close.

Status quo, gue belom dipecat sih. Tapi keputusan untuk memberi waktu tiga bulan lagi sebelum re-evaluating memang membuat gue sedikit syok. Terlebih lagi, kecepatan penyebaran gosip di kantor ini yang lebih cepat daripada penyebaran flu babi di Australia memang sedikit menyebalkan. Right now, when I see people, all I can think of is, "They knew it before I did," and "They all feel so sorry for me," and "What the F, lets throw a pity-party for me,"... snap!

Yang gue rasakan sekarang, gue sedang menimbang-nimbang kemungkinan. Kemungkinan kalau gue bisa bertahan disini, atau kemungkinan gue mencari pekerjaan lagi. Kemungkinan gue menjadi salah satu dari ribuan orang yang berjibaku berebut lahan penghasilan di negeri ini *hayahhh*, and I feel like I don't have enough amo for that right now. Tapi kalo dipikir lagi, emang ada orang yang siap jadi pengangguran? hmmm..

Things are getting out of hands for me right now. People are telling me, "Don't stress out!" tapi malah bikin gue jadi makin kacau. "Jangan dipikirin," malah bikin gue makin ngga bisa tidur. "Kerja aja sebaik-baiknya tiga bulan ini," malah bikin gue jadi nggak fokus. I'm losing grip here.

Terus gue mulai membuka-buka lagi semua account di website nyari-nyari kerja. Jobstreet, jobsdb, you name it. Meng-update resume online, ngedit CV yang udah setahun disimpen aja di flashdisc. Man, I just realize that it was so exhousted! Physically and mentally. *Especially if you do it during deadline, hahaa*

Tiba-tiba, ditengah semua kegiatan menyebalkan itu, gue pengen ketawa keras-keras. Ada perasaan geli kaya dikitik-kitik yang gue sendiri ngga tau apa penyebabnya. It's funny because it's weird!

Life has an awkward sense of humour. It's like when you really really wanna cry, but you laugh instead, just to show poeple that you're strong. Funny.


Cheers,
-ajeng-

28.5.09

Kenapa Susah Berbuat Baik?

Kemarin baru nonton SCTV, ada yang diundang, keluarga korban kecelakaan pesawat Hercules-Magetan. Ibu itu kehilangan putrinya. Anak itu, seorang gadis yang menjadi sukarelawan pengajar di pedalaman Papua. Dari jurnal yang belakangan ditemukan si ibu, anak ini bercerita betapa pengalaman jadi guru di Papua adalah sebuah pengalaman yang indah dan tak terlupakan. Dan betapa dia lalu menyadari, betapa pendidikan begitu 'mahal' untuk sebagian anak-anak Indonesia.

Mungkin karena gue adalah seseorang yang menyandang gelar S.Pd di belakang nama, atau karena gue terlahir dari keluarga pendidik (ibu gue guru, bokap juga guru, bokap satu lagi juga guru, nyokap satu lagi juga katanya guru *hahaha), atau karena dulu gue pernah volunteer ngajar di panti asuhan pas jaman kuliah, gue jadi kepikiran.

Enggak, gue ngga pengen alih profesi. Gue nggak pengen jadi guru di sekolahan, mengajar di depan kelas penuh dengan anak-anak berbuku bagus dan sepatu bagus, nerima gaji bulanan, dan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Gue pengen melakukan lagi apa yang pernah gue lakukan empat tahun lalu. Bertemu dengan anak-anak yang serba kekurangan. Yang memiliki kehidupan lebih kompleks dari sekadar belajar-dan-bermain. Yang selalu menyambut kedatangan gue dengan senyum terkembang atau cemberut kalo minggu lalu gue terpaksa absen. Yang masih ingin belajar tapi dipaksa berhenti oleh keadaan...

Di Salatiga yang notabene kota kecil dengan anak jalanan yang nggak seberapa banyak, gue merasa beruntung bisa mendidik yang sedikit itu. Lantas, seharusnya ngga ada alasan kenapa gue ngga melakukan hal yang sama di Jakarta, kota dengan ratusan anak-anak marjinal.

Nah, mulailah gue nge-browse di internet, cari tau apa ada organisasi yang nerima relawan karbitan kaya gue ini. Tapi niat gue ternyata sangat bersyarat. Antara lain kaya gini nih:

1. Waktu ngajar harus pas weeked, biar ngga ganggu kerjaan primer sebagai kuli tinta (kayanya syarat yang ini mah mutlak)
2. Dari hari Sabtu dan Minggu yang tersisa, harus pilih satu aja, biar masih ada waktu buat di rumah, ketemu suami.
3. Tempat ngajar harus ada dalam radius 30 menit perjalanan dari rumah (kalo ini sih biar gampang aja).
4. Tidak mau terikat sama kegiatan tetek bengek seperti pertemuan rutin bla bla bla, gue cuma pengen ngajar!

Ehm....

Ya begitulah, mau berbuat baik aja kok ya harus pake syarat. Padahal kata Bimbo mah, berbuat baik janganlah ditunda-tunda....*sigh*

Cheers,
-ajeng-

25.4.09

Pindah

Dua tahun yg lalu, aku melakukan hal yang sama.
Memasukkan satu demi satu barang2 ku ke dalam kotak2 kardus. Di sebuah kamar kos di salah satu sudut kota magelang. I'm leaving for Jakarta.

Aku masih ingat aku menangis. Aku harus meninggalkan keluarga, orang2 yang kusayangi, teman2ku; menghancurkan sekeping hati..

Dua tahun yg lalu, aku melakukan hal yang sama. Seperti malam ini. Mengepak semua barang2ku ke dalam kotak2 kardus, namun kali ini tanpa tangis.

Kali ini, aku pergi bukan untuk meninggalkan siapapun, aku pergi untuk bersama seseorang, for the rest of my life.


Cheers,
-ajeng-

26.3.09

Mengisi Kuis!!!

Phlegmatik (Phlegmatic) - Cairan phlegma - Lambat - “Cinta Damai”

Kelompok ini tak suka terjadi konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan, sekalipun ia sendiri tidak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya tidak terus berkepanjangan.

Kaum phlegmatis kurang bersemangat, kurang teratur dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan kalau memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau jadi pendengar yang baik, tapi kalau disuruh untuk mengambil keputusan ia akan terus menunda-nunda. Kalau anda lihat tiba-tiba ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara terus, maka pastilah para pendengar yang berkerumun itu orang-orang phlegmatis. Sedang yang bicara tentu saja sang Sanguinis.

Kadang sedikit serba salah berurusan dengan para phlegmatis ini. Phlegmatis memiliki sifat alamiah pendamai. Ia biasanya menghidari kekerasan. Karena itu jugalah ia adalah orang yang mudah diajak bergaul, ramah, dan menyenangkan. Ia adalah tipe orang yang bisa membuat sekelompok orang tertawa terbahak-bahak oleh humor-humor keringnya, tetapi ia sendiri tidak tertawa.

Ia adalah pribadi yang konsisten, tenang, dan jarang sekali terpengaruh dengan lingkungannya. Inilah yang membuatnya hampir-hampir tidak pernah terlihat gelisah. Di balik pribadinya yang dingin dan malu-malu, sesungguhnya ia memiliki kemampuan untuk dapat lebih merasakan emosi yang terkandung pada sesuatu. Karena sifatnya yang menyukai kedamaian dan tidak menyukai pertikaian, ia cenderung menarik diri dari segala macam keterlibatan. Hal inilah yang sering kali menghambatnya untuk menunjukkan kemampuannya secara total. Sering kali mereka hanya menggunakan 30%-50% dari kemampuan mereka.

(by Joseph http://cybersurferzone.blogspot.com)



hahaha *lol* it's sooooo me!!

Cheers,
-ajeng-

3.3.09

success is.....

Sukses, menjadi satu kata yang sulit didefinisikan. Seperti sebuah karya, sukses adalah relatif. Ukurannya bisa jadi tak sama antara satu dengan lain orang. Lazimnya, kesuksesan memang diukur dengan tingginya kekuasaan atau banyaknya uang.

Apapun yang menjadi tolak ukur, kata sukses itu aja sudah menggiurkan. Menerbitkan liur. Memang siapa orang di dunia ini yang tidak mau sukses? Dengan ukuran apapun.

Lalau berbagai seminar digelar, berbagai buku diterbitkan, berbagai jargon diteriakkan. Tujuannya, agar kita percaya bahwa sukses hanya sejengkal jauhnya dari genggaman tangan.

Konon, ketika berperang, Napoleon Bonaparte membekali setiap orang dalam pasukannya dengan sebuah tongkat. Sebuah tongkat yang sama persis seperti miliknya. Tongkat itu harus dimasukkan ke dalam tas perang mereka, dan sebelum berangkat semua prajurit harus membiasakan diri dengan sebuah ritual. Mereka diharuskan memegang tongkat itu dan meyakinkan diri dalam hati, bahwa mereka adalah Napoleon. Semua prajurit, tanpa kecuali, harus meyakini bahwa suatu hari nanti mereka juga akan berada di puncak pimpinan sebagai jenderal besar, layaknya Napoleon. Macam self-hypnotize gitu.

Tapi dimana-mana, tampuk pimpinan hanya satu. Dimana-mana orang-orang yang luar biasa jumlahnya lebih mengerucut daripada orang-orang biasa. Mengapa mereka disebut 'orang kebanyakan', ya karena memang orang-orang yang biasa jumlahnya banyaaakkk.

Lalu, apa arti sukses bagi orang kebanyakan? Benarkah sukses sekalipun berada sejengkal lebih dekat dengan orang kebanyakan?

Dari semua prajurit yang membelai tongkat Napoleon mereka, hanya sedikit yang akhirnya memang menjadi Napoleon-Napoleon baru. Sisanya, tetap menjadi prajurit. Dari ribuan karyawan yang datang di seminar tentang cara-cara meraih 'sukses', hitung sendiri berapa orang yang akhirnya benar-benar berhasil.... menjadi satu tingkat diatas orang-orang kebanyakan?



Cheers,
-ajeng-

ditulis setelah mengikuti seminar 'GO EXCELLENT 2009'

20.2.09

Persahabatan Kepompong

Saat gue TK
Namanya Meta. Rumahnya di depan rumah gue. Nenek dia itu, si mbok yang tiap hari ngejagain gue juga, karena nyokap pergi kerja. Jadi tiap hari kita barengan, makan barengan. Main ke pasar juga bareng... Nyanyiin lagu-lagunya Anggun C Sasmi yang Tua-Tua Keladi bareng *walopun dia lebih suka Nike Ardila, sih* huehehehe....
Kepisah karena gue pindah ke rumah nenek pas kelas dua SD.

Saat gue SD
Namanya Dina. Rambutnya keriting megar, ahahaha... Mulai genit sama kakak kelas, kita biasa flirting2 bareng sesaat sebelum berbaris di depan pintu kelas, hueheuheu... ngaco deh.
Dina, sepertinya memang dewasa sebelum waktunya. Dari dia, gue pertama kali mengenal Freddy S.... Huakakaka, kacooo...

Saat gue SMP
Weiss... udah mulai genk-genkan niy. Pas kelas satu, gue deket sama Astri, Nana, dan *anjis, satu lagi gue lupa namanya*. Gitu naik ke kelas tiga, kita mulai beda visi *hahaha* Gue lalu berteman sama Tutik dan Suci.

Saat gue SMA
Namanya Sindu, Dyah sama Apri. Karena dua tahun kelasnya samaan, pokoknya gue selalu bareng mereka deh. Geng alim. Ngga pernah berbuat nista dan terlibat aksi vandalisme. Haha
Begitu kelas tiga, ganti personality. Di kelas bahasa, kita berlimaan, gue, Susi, Hesti, Lang, sama Ony. Dan cowo-cowo lebay macam Ruben dan Pi'i, ohohoho

Mulai Kuliah
Masa-masa on-off gue, karena kebanyakan pacaran dan suka sibuk sendiri sama pacar, ck ck ck... Tapi gue seneng banget karena ketemu Anggi. We sure had our great times together.. :)Mulai nyoba-nyoba benda-benda haram...huakakaka... Terus ketemu temen-temen di radio Zenith gue tercinta. Awang, sakti, abe, owoy... intan, frida, moudy... mas Rizal!!

Jakartaaaa.....di trans 7
Masih sangat berteman baik sama Anggi, Nana, Ayiek... bertemu orang-orang menarik bersama mereka.
Di tempat kerja, tiba-tiba ketemu makhluk-makhluk menarik nan ajaib. Yetta, Kiki, Dhimas, Ira, Adit, Kepriwe1, Kepriwe2, Uda... whom I will be married to :p

Di Nova
Gue pikir ngga akan ketemu temen-temen seasyik temen-temen gue yang lalu. Ternyata gue ketemu Yetta *lagi*, Cito, Ester, Wisnu... Ngga kalah gila Iqem, Edwin, Romy... semuanya!!

gue inget waktu acara farewell gue dan anggi ninggalin salatiga. salah seorang temen kita, mabok beraaaat, sambil ketawa-ketiwi ngga jelas ngelihat kita berdua yang sesenggukan bilang gini:

"Dimanapun lo nanti, lo HARUS percaya kalo di tempat itu lo bakal nemuin sahabat-sahabat baru. Orang-orang yang tulus sayang sama lo. Mungkin orangnya akan beda-beda, tapi lo harus percaya. Hal seindah persahabatan engga diciptain cuma satu kali sama Tuhan..."

Malam ini, gue mengingat semua nama sahabat-sahabat gue *kecuali satu yang di SMP tadi kayanya, hihi*... Malam ini gue mengingat mereka dengan penuh rasa syukur. Mereka memberi warna di hidup gue....


Cheers,
-ajeng-

Terintimidasi

Akhir-akhir ini gue baru menyadari kalau kita sudah terperangkap dan terpengaruhi oleh mata dunia yang sangat mengintimidasi.

in.ti.mi.da.si n tindakan menakut-nakuti (terutama untuk memaksa orang atau pihak lain berbuat sesuatu); gertakan; ancaman;

Atau mungkin hari ini orang memang lebih mudah ditakut-takuti secara mental, alih-alih fisik.

Di jalanan Jakarta yang padat, gue termasuk pengendara motor yang 'malas'. Malas mencari celah-celah sempit untuk dimasuki. Kalau jalanan Gatot Subroto yang penuh lubang itu mulai padat pada jam tujuh malam, gue lebih memilih ngejongkrok aja dibelakang salah satu mobil yang terhenti. Sementara motor lain dengan giat menaiki trotoar, melindas genangan comberan, meliuk gesit diantara dua sedan.

Dua hari yang lalu, gue lagi asyik melamun ditengah kemacetan, diatas motor. Memandangi gedung Jakarta dari sela-sela ranting pohon yang masih basah karena hujan. Tiba-tiba gue tergangu sama motor di depan gue yang mulai belingsatan. Dia kejebak di sela-sela mobil dan gue dibelakangnya. Kayanya ngga sabar banget pengen keluar, padahal jalanan asli padat abiiisss... Terus gue melirik ke pinggiran jalan. Berderet motor emang lagi jalan diatas trotoar, semua ingin jadi yang terdepan.

Kayanya si motor depan gue itu sangat terintimidasi sama mereka....

Gue juga pernah merasa terintimidasi sama seorang cewe. Teman yang gue kenal di tempat kerja gue yang lama. Dia cantik, pinter ngomong, anggun, dan menyenangkan. Kadang gue ngerasa nggak bener nih... kaya gue pengen memeluk dia sekaligus mencekiknya dalam waktu bersamaan. Gue pernah merasa iri. Pernah juga merasa cemburu. Dan kalau gue pikir-pikir, perasaan yang gue rasain ke cewe itu sama sekali bukan kedua-duanya. Aneh.

Mungkin gue merasa terintimidasi sama dia. Nggak tau karena apa. Apa mungkin gue merasa terancam? Terancam apa? Ih beneran deh, nggak ngerti. Dan gue suka sama dia, sebenernya. Bukan tipe yang bakal gue lihat dengan mengernyit.

Setelah banyak waktu yang dengan tidak berguna gue habiskan untuk menganalisa perasaan gue, gue berkesimpulan, perasaan ini sama ketika gue ada di kelas 1 SD. Gue punya temen namanya Ika. Selama dua caturwulan berturut-turut gue selalu juara 1, sampai caturwulan ketiga, dia tiba-tiba menggantikan posisi gue. Gue lengser keprabon.... Dan gue ngga benci dia. Gue hanya jadi terintimidasi. Terintimidasi.

Perasaan yang seharusnya tidak membuat hati kita terkorosi...

Cheers,
-ajeng-

30.1.09

so, are you friend or foe...?

Manusia mungkin memang benar mahluk terkejam yang pernah diciptakan oleh Tuhan....

Selain bunglon, cuma manusia yang bisa menampakkan dua sisi dirinya yang berlainan dalam waktu yang sangat singkat, bukankah benar begitu? Oh wait... bunglon merubah warna tubuh sesuai tempat menempelnya untuk mengecoh bakal mangsanya. Suatu sistem mempertahankan diri yang alami untuk mencari makan. Manusia? Untuk apa manusia begitu sering mengubah sikap, dan dengan begitu gampangnya pula? Ah, manusia memang rumit. Terlalu njlimet untuk dipahami. Apalagi sekarang, dimana kita hidup di era dimana bahkan psikiaterpun punya psikiater.

Dan ah.... betapa susahnya untuk disukai oleh kumpulan mahluk kejam ini....

Tidak cukupkah, setiap kali pulang dari tempat jauh, oleh-oleh yang kubawa untuk kalian? Masih kurang, percakapan tentang hal-hal remeh temeh yang sebenarnya akupun menganggapnya tak penting, tapi kubicarakan juga karena aku tak tahu apa lagi yang bisa kita bahas selain basa-basi? Tak bisa ya, dengan tertawa keras-keras untuk setiap gojekan yang kau katakan? Lalu, apa?

Mmmm... apa aku harus menyukai hal-hal yang kalian semua -masyarakat majemuk- sukai, supaya perbincangan asing ini lebih bisa aku ikuti? Tapi perkembangan teknologi yang kalian -masyarakat majemuk- anut ternyata begerak lebih cepat dari otak tuaku yang letih. Yang sepertinya sudah cukup penat memikirkan hal-hal lain dalam kehidupan pribadiku (yang tentu saja kalian semua tak bakal pernah mengerti, mendengarkan saja tak pernah). Umph!

Kalau aku memilih untuk menjauh sejenak dari kalian, berada di kursiku sendiri yang jauh dari tempat kalian -masyarakat f**kin' majemuk- nongkrong (it's how you say it, right?), kalian bilang aku bersembunyi. Menyendiri. Menutup diri. Mengisolasi diri. Lalu kalian sebut aku apa? Geek? Freak? Aneh?? ... Anehhh???!!! Ah, kalian yang aneh!

Di depanku kalian tersenyum. Di belakangku kalian merayakan keanehanku. Menertawakan kekonyolanku. Menghina usahaku untuk fit in.

...dan kalian menyebut diri kalian 'teman'?

Aku... mungkin sedikit berbeda dari kalian semua -masy..... ah, nggak ada gunanya-. Aku hanya ingin diterima dengan tulus. Kalian toh tidak perlu menyukaiku untuk bisa menerimaku, kan? Setidaknya kalian bisa menghargai semua usahaku untuk menjadi satu diantara kalian. Tanpa dihakimi.



Cheers,
-ajeng-


and what makes you think that this is about me?

20.1.09

Bercermin

Gue awali dengan sebuah inspirasi yang diambil dari blog Paulo Coelho:

Arti dari sebuah cermin adalah untuk menyingkap. Menurut kepercayaan kuno, cermin menyuguhkan sebuah garis penghubung ajaib yang tak terlihat, menyambungkan seseorang dan bayangannya. Karena itulah, cermin dipercaya dapat menangkap jiwa seseorang yang melihatnya. Berangkat dari kepercayaan ini, orang-orang mulai menutupi cermin dengan kain ketika ada yang meninggal, sehingga jiwanya tak terpenjara dalam dunia bayangan. Ini juga alasan mengapa setan dan makhluk halus tak memiliki bayangan di cermin.

Dalam beberapa tradisi bernuansa mistik, seperti pada kaum Sufi, dunia ini sesungguhnya tercipta sebagai refleksi atau bayangan dari Tuhan. Ada sebuah cerita, konon setelah Tuhan menciptakan burung merak, Ia membuat binatang pongah ini melihat cermin. Melihat bayangannya, sang Merak, dalam kekagumannya, mulai berkeringat. Bulir keringat ini jatuh lalu membentuk dunia.

***

Cermin... dibalik seribu macam cerita yang mungkin pernah ada berkaitan dengan cermin, apa yang biasa kita lihat ketika bercermin? Jerawat? Mencocokkan dan merapikan baju?

Harusnya cermin bisa memantulkan kepribadian pemakainya. Menganalisa perilaku dari pantulan senyum atau seringai manusianya. Harusnya tiap-tiap manusia punya sebuah cermin yang bisa memunculkan cap : "sombong" atau "terlalu humble" atau "congkak" tiap selesai berkata. Karena bukankah itu gunanya cermin, untuk menampilkan kebenaran, meski sepahit apapun?

***

Gue pikir, salah satu cara untuk 'bercermin' adalah dengan mengandalkan orang lain. Sahabat, pasangan, orangtua, saudara, apapunlah. Mereka yang mau mengatakan dengan jujur apa yang salah dari diri kita. Apa yang harus dikoreksi.

Asal kita bisa berlapang dada, karena itu berarti kita berkaca pada cermin yang buram.

Cheers,
-ajeng-

15.1.09

Oh The Things You (Women) Do for Love

When it comes to love and pairing, how come women always have to become the less powerful ones?

Gue inget ada sebuah pembelaan yang sedikit menyedihkan dari sebuah film, gue lupa apaan judulnya, "Memang lelaki adalah kepala keluarga, tapi wanita adalah leher yang menggerakkan kepala."

Really?

Over the century, women has become an object to many kind of violance, often in their own houses, by thier own husbands. Gimana caranya mengenali bibit-bibit kekerasan ini sejak awal, for example, sejak pacaran? Well, you could read yourself many kinds of magazines and self-help books for inspiration.

Ah, ini bukan sebuah teriakan protes dari seorang wanita kok. Malah wanita yang ini sepertinya sedang mencicipi sebuah sensasi baru, yang didapat dari sebuah bentuk penghambaan yang aneh. Well, enough about this boring woman, I have another story.

Gimana kalau laki-laki itu, dalam jangka waktu yang relatif lama, memegang sepenuhnya kemauan untuk berdiam. Memberi sinyal-sinyal positif tentang kemungkinan. Tapi tetap, diam?
Gimana kalau laki-laki itu, dalam jangka waktu yang lama, hanya menerima dan menjangkau, tidak memberi atau mengulurkan tangan?
Gimana kalau laki-laki itu, dalam jangka waktu yang sangat lama, menggerogoti kepercayaan diri seorang wanita hingga keropos??

Wanita itu menunggu. Wanita itu menunggu. Wanita itu hanya menunggu.

Apa yang akan kepala lakukan, jika leher hanya termangu?



Cheers,
-ajeng-

30.12.08

Why We Should Stop on Planning Everything

Nyokap gue adalah orang yang sangat terencana. Kalau ada satu hari istimewa, dari seminggu sebelumnya pasti dia udah menyusun jadwal sedemikian tepatnya. Kalau kita ada di dalam jarak radius 10 meter dari jangkauannya, setiap setengah jam sekali pasti kita dengar lagi rundown acara yang udah tersusun rapi itu, kadang-kadang malah lengkap sama sample quote dari apa yang bakal dia ucapkan nanti.

Gue ngga tau apakah nyokap gue emang udah kaya gitu dari jaman beliau masih muda, tapi kayanya iya sih.

Bokap gue, on the other hand, adalah sesuatu yang tak pernah dia rencanakan.

And it broke her.


Saat gue masih kecil, gue juga suka merencanakan semuanya. Se-mu-a-nya. Jika besok hari istimewa, malamnya gue ngga akan tidur, dengan deg-degan merencanakan setiap menit dari hari istimewa gue. Seringnya dengan tersenyum. Karena dalam rencana, semua selalu berjalan sempurna...

Lalu hidup jadi semakin kejam. Mungkin karena semakin tua, semakin lama kita ada di dunia, dunia menjadi semakin bosan. Seperti balita manja yang sudah bosan pada mainan lamanya, dunia acapkali mencampakkan kita, lalu memungut, hanya untuk mencampakkannya sekali lagi. Dan rencana-rencana mulai berguguran seperti daun-daun pohon jati di kebun belakang. Kering, rapuh, hitam.

When all the plans fall apart, we start to seek for alternatives.


Untuk nyokap gue adalah, lari. Kembali ke rumah orangtuanya, meski dengan ego yang terluka. Dan tekanan darah yang meningkat tinggi.

Sementara untuk gue adalah, berhenti. Berhenti dari kekacauan ini dan memulai menata kepingan rencana-rencana baru. Meski harus sedikit mengotori paru-paru.



Cheers,
-ajeng-