Showing posts with label lifestyle. Show all posts
Showing posts with label lifestyle. Show all posts

17.7.09

Jakarta's Public Busses - A One-Stop Shopping and Entertainment

Transportasi memang selalu jadi bahasan menarik di Ibukota. Mulai dari macet jalanannya, bobrok bis-bisnya, copet di dalamnya, dan penjual kaki limanya.

Sejak berkenalan dengan busway, gue emang ngga sesering dulu naik bis kota. Jaman masih idup di Mampang, perjalanan ke kantor emang selalu dengan bis bernomor 46. Bisnya guedeee, rongsokan dari bis Jepang, kayanya. Mesinnya butut, jendelanya lebar-lebaaar, mayan kalo mau ngadem. Cuma, ya itu, penuhnya na'ujubile deh! Apalagi kalo jam-jam sibuk, kaya jam berangkat ato pulang kantor.

Nah, beberapa hari yang lalu, gue berkesempatan naik bis ini pas jam yg belum sibuk, jam 4-an gitu lah. Jadilah bis itu ngga terlalu sesak dengan banyaknya orang yang berdiri *plus ngga terlalu bau ketek dari mereka yang pegangan diatas, huehee..*

Gue kan orangnya emang suka merhatiin hal-hal yang ngga penting gitu ya, ciiin... Ternyata lumayan banyak pemandangan lucu yang gue temuin di bus itu. Nah, yang mo gue ceritain sekarang adalah para penjaja-penjaja yang mobile, bapak-bapak judes di depan tempat gue duduk, dan temen gue Yetta. Hihi

Baru aja gue duduk, tiba-tiba pangkuan gue udah dijatohin buku mewarnai buat anak-anak. Ada lima macam, boy. Gambar-gambar tumbuhan, binatang, alam, huruf dan angka, semuanya hanya berupa outline aja. Siap diwarnai oleh tangan-tangan mungil putra-putri ibu bapak di rumah...

Gue, gak tertarik. Bapak-Bapak Judes (BBJ), mengibaskan tangan. Yetta, gak tertarik.

Abis si penjual ngider dan keluar dari bis, dateng lagi penjual yang lain. Kali ini yang dijual adalah buku pintar kaya RPUL *kalo jaman gue SD dulu*. Ngoceh-ngoceh bentar, langsung deh itu buku mendarat lagi di pangkuan.

Gue, gak tertarik juga. BBJ, mengibaskan tangan dengan judes. Yetta, membuka dan membaca-baca buku itu dengan malas. Alhasil kita bertiga ngga beli, dong...

Abis si penjual RPUL, datanglah pengamen. Gue lupa lagunya apaan.

Gue, ngerogoh gopek'an. BBJ, masih mengibaskan tangan sambil menambah efek dramatis buang muka. Yetta, cuek.

Eh, belom brenti juga kesibukan di bis ini. Padahal gue cuma naik dari Slipi ke Tebet, lho. Ada penjual alat pijit yang ciamik! Terbuat dari kayu, bisa buat kerok, buat urut, buat pijit, segala macem deh! Bentuknya kaya bintang ninja gitu. Harganya lima ribu. Dibandingkan dengan kegunaannya yang sangat bervariasi, ini udah dibanting banget! haha

Gue, ya gak tertariklah! BBJ, langsung beli! gue ampe kaget. Yetta, kayanya lagi ngelamun deh.

Teruuuuus, masih ada lagi. Tukang jualan pulpen. Merknya Eazy-Rite MILENO. KEnapa gue bisa apal gitu? Karena gue beli, hahahaha... Ada tiga biji, warna ijo, ungu sama oranye. Harganya murah meriah, hanya dua ribu saja. Gue beli dooong!!

Gue, ya lo tau deh. BBJ, sepertinya sudah tidak perduli keadaan sekitar. Yetta, ngeledekin gue karena gue beli pulpen-pulpen itu, huhu.

Ini gue udah mau turun di Tebet, eh masih naik lagi pengamen bapak-bapak yang bawa suling sunda. Buseeet..!

Gila kan, bus di Jakarta ini?? Bener-bener one-stop shopping and entertainment!



Cheers,
-ajeng-

22.5.09

dirty [not too] sexy money

Untuk seseorang yang sudah terlalu jauh menggauli mode kehidupan konsumerisme, menabung itu susaaaaaahhhh...!! And i'm not talking about saving money for yourself. Yep. I'm talking about family financial. Now that I'm no longer single, this one thing apparently becomes slightly complicated. *sigh*

Setelah menyempatkan diri mengobrol dengan beberapa teman, ternyata mengurus keuangan keluarga kurang lebih sama dengan membuat kopi: everybody has their own formula of doing. But, lots of them share one funny fact, joint-account. Satu rekening yang di'gemuk'kan oleh kedua belah pihak.

It really got me into thinking: when it comes to family financial planning, on what point does a joint-account become neccesary?

Well, menurut mereka yang pro, tabungan bersama bisa jadi penyeimbang. Biar ada sense of responsibility yang sama. Toh, pada akhirnya duit bersama itu bakal dibeliin barang buat keperluan bareng. Atau buat liburan bersama. Tapi kok gue ngga sreg ya? hmm...

Mungkin karena gue ini penganut paham: duit gue-duit gue, duit lo-duit lo. *tapi kalo gue butuh duit, gue minta lo ya* uhuehuehueheuheu

atau mungkin juga karena gue sebenarnya masih terlalu egois untuk membagi-bagi duit hasil kerja gue sama orang lain, hihihihi... what a bitch...

Cheers,
-ajeng-

26.3.09

Mengisi Kuis!!!

Phlegmatik (Phlegmatic) - Cairan phlegma - Lambat - “Cinta Damai”

Kelompok ini tak suka terjadi konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan, sekalipun ia sendiri tidak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya tidak terus berkepanjangan.

Kaum phlegmatis kurang bersemangat, kurang teratur dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan kalau memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau jadi pendengar yang baik, tapi kalau disuruh untuk mengambil keputusan ia akan terus menunda-nunda. Kalau anda lihat tiba-tiba ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara terus, maka pastilah para pendengar yang berkerumun itu orang-orang phlegmatis. Sedang yang bicara tentu saja sang Sanguinis.

Kadang sedikit serba salah berurusan dengan para phlegmatis ini. Phlegmatis memiliki sifat alamiah pendamai. Ia biasanya menghidari kekerasan. Karena itu jugalah ia adalah orang yang mudah diajak bergaul, ramah, dan menyenangkan. Ia adalah tipe orang yang bisa membuat sekelompok orang tertawa terbahak-bahak oleh humor-humor keringnya, tetapi ia sendiri tidak tertawa.

Ia adalah pribadi yang konsisten, tenang, dan jarang sekali terpengaruh dengan lingkungannya. Inilah yang membuatnya hampir-hampir tidak pernah terlihat gelisah. Di balik pribadinya yang dingin dan malu-malu, sesungguhnya ia memiliki kemampuan untuk dapat lebih merasakan emosi yang terkandung pada sesuatu. Karena sifatnya yang menyukai kedamaian dan tidak menyukai pertikaian, ia cenderung menarik diri dari segala macam keterlibatan. Hal inilah yang sering kali menghambatnya untuk menunjukkan kemampuannya secara total. Sering kali mereka hanya menggunakan 30%-50% dari kemampuan mereka.

(by Joseph http://cybersurferzone.blogspot.com)



hahaha *lol* it's sooooo me!!

Cheers,
-ajeng-

30.12.08

Why We Should Stop on Planning Everything

Nyokap gue adalah orang yang sangat terencana. Kalau ada satu hari istimewa, dari seminggu sebelumnya pasti dia udah menyusun jadwal sedemikian tepatnya. Kalau kita ada di dalam jarak radius 10 meter dari jangkauannya, setiap setengah jam sekali pasti kita dengar lagi rundown acara yang udah tersusun rapi itu, kadang-kadang malah lengkap sama sample quote dari apa yang bakal dia ucapkan nanti.

Gue ngga tau apakah nyokap gue emang udah kaya gitu dari jaman beliau masih muda, tapi kayanya iya sih.

Bokap gue, on the other hand, adalah sesuatu yang tak pernah dia rencanakan.

And it broke her.


Saat gue masih kecil, gue juga suka merencanakan semuanya. Se-mu-a-nya. Jika besok hari istimewa, malamnya gue ngga akan tidur, dengan deg-degan merencanakan setiap menit dari hari istimewa gue. Seringnya dengan tersenyum. Karena dalam rencana, semua selalu berjalan sempurna...

Lalu hidup jadi semakin kejam. Mungkin karena semakin tua, semakin lama kita ada di dunia, dunia menjadi semakin bosan. Seperti balita manja yang sudah bosan pada mainan lamanya, dunia acapkali mencampakkan kita, lalu memungut, hanya untuk mencampakkannya sekali lagi. Dan rencana-rencana mulai berguguran seperti daun-daun pohon jati di kebun belakang. Kering, rapuh, hitam.

When all the plans fall apart, we start to seek for alternatives.


Untuk nyokap gue adalah, lari. Kembali ke rumah orangtuanya, meski dengan ego yang terluka. Dan tekanan darah yang meningkat tinggi.

Sementara untuk gue adalah, berhenti. Berhenti dari kekacauan ini dan memulai menata kepingan rencana-rencana baru. Meski harus sedikit mengotori paru-paru.



Cheers,
-ajeng-

11.12.08

in a moment of solitude

Kesendirian seakan selalu terkonotasi dengan kesepian.

Gue sering melihat orang-orang meremehkan orang-orang yang sendirian, meskipun tak sepenuhnya kesepian. Memandang aneh kepada orang-orang yang makan sendirian, "Ih, tu orang ngga punya temen apa ya?"

Jaman gue kuliah dan masih menganut paham feminisme dan gothic-isme berlebih, gue sering banget kemana-mana sendiri dan merasa sombong. Bahwa 'sendiri' itu eksotis dan misterius, menambah daya tarik gue, hahaha. Ngga tau juga sih pikiran itu darimana.

Semakin gede, ternyata hakikat gue sebagai makhluk sosial mengambil alih. Karena dan untuk sesuatu yang normal, gue mulai menikmati nge-geng dan pergi kemana-mana seperti rombongan bison. Rame dan rusuh.

Lalu gue merindukan sendiri. Merindukan sepi. Merindukan nikmatnya merasakan dunia berpusat kepada diri sendiri, tak perlu berbagi. Walaupun cuma sehari tadi, tapi cukup membuat gue merasa legaaaa... I mean, legaaaaa..... ngga berebut udara sama orang lain. Bukannya gue merasa sumpek bareng temen-temen dan pacar di Jakarta, it's just another kind of delight I haven't felt for quite some time.

ah ya...sedikit oleh-oleh dari 'pertapaan' gue.... I know I'm not a pro photographer or anything, but I really like the pictures I took this afternoon. I think they're great.







*ok, cukup bertapanya...gue mo siap2 jalan, meeting an old friend, ahahahaha*


Cheers,
-ajeng-

1.11.08

Dear Dr.Boyke

Dear Dr. Boyke,

Mungkin bayaran sebagai 'dokter' saja ngga cukup, jadi Anda perlu memanfaatkan titel itu untuk mencari uang di lahan lain. Sebagai aktor atau... pemain iklan.

"HIV adalah penyakit yang berbahaya, dan belum ada obatnya," ... okay, gue masih nonton iklan film ML dengan hikmad saat iklan ini muncul disela-sela "Bioskop Trans TV: Batman Returns"

"Penderitanya PASTI MATI!!! Dan dengan MENGENASKAN!!!"

God! What kind of "doctor" says something like that??

Gue teringat P***, temen gue yang baik dan lucu. Seorang ODHA yang optimis melalui hari-harinya meski tau penyakit ini obatnya belom ditemukan. Yang rela menenggak bermacam-macam pil setelah makan siang untuk meredakan sakit yang kadang menyerang tanpa permisi. Yang baru berani cerita ke gue dia terinfeksi HIV berbulan-bulan setelah vonis. Yang jadi sering telpon malem-malem untuk curhat dan saling menguatkan. Yang berkali-kali SMS minta maaf kalo-kalo waktu ternyata tak mau menunggunya lagi.

Gue teringat temen gue dan merasa takut kalo-kalo disaat yang sama, dia, keluarga dan teman-temannya juga *entah mengapa* lagi nonton Batman Returns dan ngga sengaja melihat iklan 'Dr.Boyke' itu. Membayangkan dia tercenung mendengar kata "MENGENASKAN" dan nada ancaman di baliknya. Membayangkan bagaimana kata itu akan menghantui tidurnya, malam itu dan malam-malam selanjutnya. Membayangkan siapapun yang tengah menonton TV bersama dia akan berpura-pura tak mendengar iklan itu dan dengan canggung mencari topik pembicaraan yang lain.

Apa yang ingin disampaikan oleh iklan ini, sebuah promosi tanpa arti untuk film layar lebar yang sudah pasti akan hancur di pasaran. Untuk menakut-nakuti, agar semua yang menonton menjauhi hal-hal yang bisa menularkan HIV dan AIDS? Memangnya dia ngga berfikir, ada orang-orang yang udah terjangkiti di luar sana yang sedang 'berdamai' dengan penyakit ini. Dan apapun yang mereka lakukan di masa lalu mereka, ngga adil dan ngga bijak jika ancaman dan caci maki serta hinaan seperti itu dengan ketus ditamparkan ke muka mereka oleh seorang dokter yang, above all educated people, should know better...

Dan seketika itu juga, gue sangat membenci Dr.Boyke

Cheers,
-ajeng-

19.10.08

RACIST

The more we grow older, the more racist we become. Or is it less?

Mungkin karena gue menghabiskan sebagian besar kehidupan gue di Jawa, yang ngga terlalu berjubel dengan orang-orang dari daerah lain. Kalaupun ada temen-temen gue yang berasal dari pulau yang perginya pake nyebrangin laut, merekalah yang bakal nyesuaiin sama custom kita di Jawa.

Di kota yang ramai ini, memberi label kepada seseorang yang punya latar budaya yang beda kayanya udah jadi hal yang biasa. Saking biasanya malah udah ngga berasa kalo perkataan-perkataan tertentu sebenernya sangat rasis, mungkin tadinya sensitif tapi saking terbiasanya ya udah...jadi sekadar jokes aja. Bukan sesuatu yang harus dipikirin.

Don't get me wrong. Gue bukan pembenci orang-orang yang bercanda dengan suku. Gue berteman baik dengan beberapa dari mereka malah. Dan gue udah ngga terkaget-kaget lagi kalo tiba-tiba salah satu temen gue menghujat teman yang lain:

"Dasar Batak....,"
"Ih, apaan sih lo Padang!"
"Lo juga, Jawir (jawa maksudnya)!!"

Dan daftarnya bisa lebih panjang kalo ditambah sama predikat-predikat yang melekat sama suku yang bersangkutan. Dan parahnya *buat gue pribadi*, gue jadi suka menyalahkan suku gue atas sikap-sikap gue yang ngga menguntungkan.

Kaya, "Karena gue orang Jawa kali ya, jadi ya pasrah aja." Duh, cemen banget ngga sih...

Apa gue lagi culture shock kali ya? Berarti lemot banget otak gue kalo emang iya, secara gue udah hampir dua tahun tinggal di Jakarta... Kayanya engga deh.

Mungkin karena sepanjang hari dalam minggu ini, atau sepanjang bulan dalam tahun ini, gue dan temen-temen gue *mungkin juga anda, pembaca setia* adalah orang Jakarta. Bukan orang Jawa, Padang, Sunda, dan Batak.. Tapi kenapa kita ngga bisa jadi "orang" aja? Tanpa embel-embel lain di belakangnya. Cuma "orang"...

A squirrel in the tree is he watching me
Does he give a damn?
Does he care who I am?
I’m just a man, is that all I am
Are my manners misinterpreted words or only human?
I’m human
-Only Human, Jason Mraz-



Cheers,
-ajeng-

13.10.08

atonement

Tiba-tiba gue teringat salah satu adegan paling mengesankan di film 'Atonement' yang dibintangi oleh Kiera Knightly dan James McAvoy.

Di sebuah perpustakaan. Dan dua orang yang bercinta. Diam-diam.

Dan keindahan scene cabul itu makin terasa ketika Kiera yang berperan sebagai Cecilia Tallis musti menahan nafas, berusaha tak terdengar, karena keluarganya tengah asyik makan malam, hanya terpisahkan sebuah dinding saja. Karena di jaman itu, medio 1940-an, pengekspresian cinta secara fisik antara dua orang yang tak terikat pernikahan adalah tabu dan terlarang.

Sekarang, mungkin masih. Di Indonesia masih sahih, sejauh yang gue pahami sih... Tapi di Jakarta, sepertinya tidak. Well, at least di deket-deket tempat gue tinggal, di Gang Damai yang tak begitu damai.

Mungkin karena gaya hidup hedon yang serba liar, mungkin juga karena kebebasan itu sudah terlanjur, apapun lah. Namun seks sudah bukan lagi hal yang pantas ditutupi, tidak oleh mata tidak juga oleh telinga. Bebas-bebas aja...

Yang menarik, di pagi harinya yang terdengar dan yang mendengar sama-sama 'act cool', seakan-akan ngga terjadi apa-apa. Seolah-olah tidur salah satu pihak tadi sama sekali tak terganggu dan tersiksa oleh 'kegaduhan' semalam. Tabu-kah untuk menyatakan keberatan, sampai-sampai protes atau teguran kecil itu tak tersampaikan? Atau memang hal-hal macam itu seharusnya disimpan aja atas nama kesopanan?


Menurut gue sih - atas nama kesopanan juga - kalo emang tinggal di bangunan yang kamar-kamarnya berimpit sempit, suara itu harus dipelanin. Ataaaauuuu... disamarkan sama suara radio ato TV. So, everybody's happy, right?


Cheers,
-ajeng-