When someone who barely know you descibes your mistakes in detils, you could consider it as two things, a slap in your face or a downfall. A slap, as in a reminder that you have to introspect, that maybe somehow you are not doing a great job after all. Or a downfall, as in you will be fired in three months.
In all my entire life, I have never been fired before. When I have to end a working period, it's me quitting. Not fired. Well, most people said there will always be a first time. I never thought mine will be this close.
Status quo, gue belom dipecat sih. Tapi keputusan untuk memberi waktu tiga bulan lagi sebelum re-evaluating memang membuat gue sedikit syok. Terlebih lagi, kecepatan penyebaran gosip di kantor ini yang lebih cepat daripada penyebaran flu babi di Australia memang sedikit menyebalkan. Right now, when I see people, all I can think of is, "They knew it before I did," and "They all feel so sorry for me," and "What the F, lets throw a pity-party for me,"... snap!
Yang gue rasakan sekarang, gue sedang menimbang-nimbang kemungkinan. Kemungkinan kalau gue bisa bertahan disini, atau kemungkinan gue mencari pekerjaan lagi. Kemungkinan gue menjadi salah satu dari ribuan orang yang berjibaku berebut lahan penghasilan di negeri ini *hayahhh*, and I feel like I don't have enough amo for that right now. Tapi kalo dipikir lagi, emang ada orang yang siap jadi pengangguran? hmmm..
Things are getting out of hands for me right now. People are telling me, "Don't stress out!" tapi malah bikin gue jadi makin kacau. "Jangan dipikirin," malah bikin gue makin ngga bisa tidur. "Kerja aja sebaik-baiknya tiga bulan ini," malah bikin gue jadi nggak fokus. I'm losing grip here.
Terus gue mulai membuka-buka lagi semua account di website nyari-nyari kerja. Jobstreet, jobsdb, you name it. Meng-update resume online, ngedit CV yang udah setahun disimpen aja di flashdisc. Man, I just realize that it was so exhousted! Physically and mentally. *Especially if you do it during deadline, hahaa*
Tiba-tiba, ditengah semua kegiatan menyebalkan itu, gue pengen ketawa keras-keras. Ada perasaan geli kaya dikitik-kitik yang gue sendiri ngga tau apa penyebabnya. It's funny because it's weird!
Life has an awkward sense of humour. It's like when you really really wanna cry, but you laugh instead, just to show poeple that you're strong. Funny.
Cheers,
-ajeng-
Showing posts with label work. Show all posts
Showing posts with label work. Show all posts
2.7.09
28.5.09
Kenapa Susah Berbuat Baik?
Kemarin baru nonton SCTV, ada yang diundang, keluarga korban kecelakaan pesawat Hercules-Magetan. Ibu itu kehilangan putrinya. Anak itu, seorang gadis yang menjadi sukarelawan pengajar di pedalaman Papua. Dari jurnal yang belakangan ditemukan si ibu, anak ini bercerita betapa pengalaman jadi guru di Papua adalah sebuah pengalaman yang indah dan tak terlupakan. Dan betapa dia lalu menyadari, betapa pendidikan begitu 'mahal' untuk sebagian anak-anak Indonesia.
Mungkin karena gue adalah seseorang yang menyandang gelar S.Pd di belakang nama, atau karena gue terlahir dari keluarga pendidik (ibu gue guru, bokap juga guru, bokap satu lagi juga guru, nyokap satu lagi juga katanya guru *hahaha), atau karena dulu gue pernah volunteer ngajar di panti asuhan pas jaman kuliah, gue jadi kepikiran.
Enggak, gue ngga pengen alih profesi. Gue nggak pengen jadi guru di sekolahan, mengajar di depan kelas penuh dengan anak-anak berbuku bagus dan sepatu bagus, nerima gaji bulanan, dan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Gue pengen melakukan lagi apa yang pernah gue lakukan empat tahun lalu. Bertemu dengan anak-anak yang serba kekurangan. Yang memiliki kehidupan lebih kompleks dari sekadar belajar-dan-bermain. Yang selalu menyambut kedatangan gue dengan senyum terkembang atau cemberut kalo minggu lalu gue terpaksa absen. Yang masih ingin belajar tapi dipaksa berhenti oleh keadaan...
Di Salatiga yang notabene kota kecil dengan anak jalanan yang nggak seberapa banyak, gue merasa beruntung bisa mendidik yang sedikit itu. Lantas, seharusnya ngga ada alasan kenapa gue ngga melakukan hal yang sama di Jakarta, kota dengan ratusan anak-anak marjinal.
Nah, mulailah gue nge-browse di internet, cari tau apa ada organisasi yang nerima relawan karbitan kaya gue ini. Tapi niat gue ternyata sangat bersyarat. Antara lain kaya gini nih:
1. Waktu ngajar harus pas weeked, biar ngga ganggu kerjaan primer sebagai kuli tinta (kayanya syarat yang ini mah mutlak)
2. Dari hari Sabtu dan Minggu yang tersisa, harus pilih satu aja, biar masih ada waktu buat di rumah, ketemu suami.
3. Tempat ngajar harus ada dalam radius 30 menit perjalanan dari rumah (kalo ini sih biar gampang aja).
4. Tidak mau terikat sama kegiatan tetek bengek seperti pertemuan rutin bla bla bla, gue cuma pengen ngajar!
Ehm....
Ya begitulah, mau berbuat baik aja kok ya harus pake syarat. Padahal kata Bimbo mah, berbuat baik janganlah ditunda-tunda....*sigh*
Cheers,
-ajeng-
Mungkin karena gue adalah seseorang yang menyandang gelar S.Pd di belakang nama, atau karena gue terlahir dari keluarga pendidik (ibu gue guru, bokap juga guru, bokap satu lagi juga guru, nyokap satu lagi juga katanya guru *hahaha), atau karena dulu gue pernah volunteer ngajar di panti asuhan pas jaman kuliah, gue jadi kepikiran.
Enggak, gue ngga pengen alih profesi. Gue nggak pengen jadi guru di sekolahan, mengajar di depan kelas penuh dengan anak-anak berbuku bagus dan sepatu bagus, nerima gaji bulanan, dan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Gue pengen melakukan lagi apa yang pernah gue lakukan empat tahun lalu. Bertemu dengan anak-anak yang serba kekurangan. Yang memiliki kehidupan lebih kompleks dari sekadar belajar-dan-bermain. Yang selalu menyambut kedatangan gue dengan senyum terkembang atau cemberut kalo minggu lalu gue terpaksa absen. Yang masih ingin belajar tapi dipaksa berhenti oleh keadaan...
Di Salatiga yang notabene kota kecil dengan anak jalanan yang nggak seberapa banyak, gue merasa beruntung bisa mendidik yang sedikit itu. Lantas, seharusnya ngga ada alasan kenapa gue ngga melakukan hal yang sama di Jakarta, kota dengan ratusan anak-anak marjinal.
Nah, mulailah gue nge-browse di internet, cari tau apa ada organisasi yang nerima relawan karbitan kaya gue ini. Tapi niat gue ternyata sangat bersyarat. Antara lain kaya gini nih:
1. Waktu ngajar harus pas weeked, biar ngga ganggu kerjaan primer sebagai kuli tinta (kayanya syarat yang ini mah mutlak)
2. Dari hari Sabtu dan Minggu yang tersisa, harus pilih satu aja, biar masih ada waktu buat di rumah, ketemu suami.
3. Tempat ngajar harus ada dalam radius 30 menit perjalanan dari rumah (kalo ini sih biar gampang aja).
4. Tidak mau terikat sama kegiatan tetek bengek seperti pertemuan rutin bla bla bla, gue cuma pengen ngajar!
Ehm....
Ya begitulah, mau berbuat baik aja kok ya harus pake syarat. Padahal kata Bimbo mah, berbuat baik janganlah ditunda-tunda....*sigh*
Cheers,
-ajeng-
3.3.09
success is.....
Sukses, menjadi satu kata yang sulit didefinisikan. Seperti sebuah karya, sukses adalah relatif. Ukurannya bisa jadi tak sama antara satu dengan lain orang. Lazimnya, kesuksesan memang diukur dengan tingginya kekuasaan atau banyaknya uang.
Apapun yang menjadi tolak ukur, kata sukses itu aja sudah menggiurkan. Menerbitkan liur. Memang siapa orang di dunia ini yang tidak mau sukses? Dengan ukuran apapun.
Lalau berbagai seminar digelar, berbagai buku diterbitkan, berbagai jargon diteriakkan. Tujuannya, agar kita percaya bahwa sukses hanya sejengkal jauhnya dari genggaman tangan.
Konon, ketika berperang, Napoleon Bonaparte membekali setiap orang dalam pasukannya dengan sebuah tongkat. Sebuah tongkat yang sama persis seperti miliknya. Tongkat itu harus dimasukkan ke dalam tas perang mereka, dan sebelum berangkat semua prajurit harus membiasakan diri dengan sebuah ritual. Mereka diharuskan memegang tongkat itu dan meyakinkan diri dalam hati, bahwa mereka adalah Napoleon. Semua prajurit, tanpa kecuali, harus meyakini bahwa suatu hari nanti mereka juga akan berada di puncak pimpinan sebagai jenderal besar, layaknya Napoleon. Macam self-hypnotize gitu.
Tapi dimana-mana, tampuk pimpinan hanya satu. Dimana-mana orang-orang yang luar biasa jumlahnya lebih mengerucut daripada orang-orang biasa. Mengapa mereka disebut 'orang kebanyakan', ya karena memang orang-orang yang biasa jumlahnya banyaaakkk.
Lalu, apa arti sukses bagi orang kebanyakan? Benarkah sukses sekalipun berada sejengkal lebih dekat dengan orang kebanyakan?
Dari semua prajurit yang membelai tongkat Napoleon mereka, hanya sedikit yang akhirnya memang menjadi Napoleon-Napoleon baru. Sisanya, tetap menjadi prajurit. Dari ribuan karyawan yang datang di seminar tentang cara-cara meraih 'sukses', hitung sendiri berapa orang yang akhirnya benar-benar berhasil.... menjadi satu tingkat diatas orang-orang kebanyakan?
Cheers,
-ajeng-
Apapun yang menjadi tolak ukur, kata sukses itu aja sudah menggiurkan. Menerbitkan liur. Memang siapa orang di dunia ini yang tidak mau sukses? Dengan ukuran apapun.
Lalau berbagai seminar digelar, berbagai buku diterbitkan, berbagai jargon diteriakkan. Tujuannya, agar kita percaya bahwa sukses hanya sejengkal jauhnya dari genggaman tangan.
Konon, ketika berperang, Napoleon Bonaparte membekali setiap orang dalam pasukannya dengan sebuah tongkat. Sebuah tongkat yang sama persis seperti miliknya. Tongkat itu harus dimasukkan ke dalam tas perang mereka, dan sebelum berangkat semua prajurit harus membiasakan diri dengan sebuah ritual. Mereka diharuskan memegang tongkat itu dan meyakinkan diri dalam hati, bahwa mereka adalah Napoleon. Semua prajurit, tanpa kecuali, harus meyakini bahwa suatu hari nanti mereka juga akan berada di puncak pimpinan sebagai jenderal besar, layaknya Napoleon. Macam self-hypnotize gitu.
Tapi dimana-mana, tampuk pimpinan hanya satu. Dimana-mana orang-orang yang luar biasa jumlahnya lebih mengerucut daripada orang-orang biasa. Mengapa mereka disebut 'orang kebanyakan', ya karena memang orang-orang yang biasa jumlahnya banyaaakkk.
Lalu, apa arti sukses bagi orang kebanyakan? Benarkah sukses sekalipun berada sejengkal lebih dekat dengan orang kebanyakan?
Dari semua prajurit yang membelai tongkat Napoleon mereka, hanya sedikit yang akhirnya memang menjadi Napoleon-Napoleon baru. Sisanya, tetap menjadi prajurit. Dari ribuan karyawan yang datang di seminar tentang cara-cara meraih 'sukses', hitung sendiri berapa orang yang akhirnya benar-benar berhasil.... menjadi satu tingkat diatas orang-orang kebanyakan?
Cheers,
-ajeng-
ditulis setelah mengikuti seminar 'GO EXCELLENT 2009'
20.2.09
Terintimidasi
Akhir-akhir ini gue baru menyadari kalau kita sudah terperangkap dan terpengaruhi oleh mata dunia yang sangat mengintimidasi.
Cheers,
-ajeng-
in.ti.mi.da.si n tindakan menakut-nakuti (terutama untuk memaksa orang atau pihak lain berbuat sesuatu); gertakan; ancaman;
Atau mungkin hari ini orang memang lebih mudah ditakut-takuti secara mental, alih-alih fisik.
Di jalanan Jakarta yang padat, gue termasuk pengendara motor yang 'malas'. Malas mencari celah-celah sempit untuk dimasuki. Kalau jalanan Gatot Subroto yang penuh lubang itu mulai padat pada jam tujuh malam, gue lebih memilih ngejongkrok aja dibelakang salah satu mobil yang terhenti. Sementara motor lain dengan giat menaiki trotoar, melindas genangan comberan, meliuk gesit diantara dua sedan.
Dua hari yang lalu, gue lagi asyik melamun ditengah kemacetan, diatas motor. Memandangi gedung Jakarta dari sela-sela ranting pohon yang masih basah karena hujan. Tiba-tiba gue tergangu sama motor di depan gue yang mulai belingsatan. Dia kejebak di sela-sela mobil dan gue dibelakangnya. Kayanya ngga sabar banget pengen keluar, padahal jalanan asli padat abiiisss... Terus gue melirik ke pinggiran jalan. Berderet motor emang lagi jalan diatas trotoar, semua ingin jadi yang terdepan.
Kayanya si motor depan gue itu sangat terintimidasi sama mereka....
Gue juga pernah merasa terintimidasi sama seorang cewe. Teman yang gue kenal di tempat kerja gue yang lama. Dia cantik, pinter ngomong, anggun, dan menyenangkan. Kadang gue ngerasa nggak bener nih... kaya gue pengen memeluk dia sekaligus mencekiknya dalam waktu bersamaan. Gue pernah merasa iri. Pernah juga merasa cemburu. Dan kalau gue pikir-pikir, perasaan yang gue rasain ke cewe itu sama sekali bukan kedua-duanya. Aneh.
Mungkin gue merasa terintimidasi sama dia. Nggak tau karena apa. Apa mungkin gue merasa terancam? Terancam apa? Ih beneran deh, nggak ngerti. Dan gue suka sama dia, sebenernya. Bukan tipe yang bakal gue lihat dengan mengernyit.
Setelah banyak waktu yang dengan tidak berguna gue habiskan untuk menganalisa perasaan gue, gue berkesimpulan, perasaan ini sama ketika gue ada di kelas 1 SD. Gue punya temen namanya Ika. Selama dua caturwulan berturut-turut gue selalu juara 1, sampai caturwulan ketiga, dia tiba-tiba menggantikan posisi gue. Gue lengser keprabon.... Dan gue ngga benci dia. Gue hanya jadi terintimidasi. Terintimidasi.
Perasaan yang seharusnya tidak membuat hati kita terkorosi...
Di jalanan Jakarta yang padat, gue termasuk pengendara motor yang 'malas'. Malas mencari celah-celah sempit untuk dimasuki. Kalau jalanan Gatot Subroto yang penuh lubang itu mulai padat pada jam tujuh malam, gue lebih memilih ngejongkrok aja dibelakang salah satu mobil yang terhenti. Sementara motor lain dengan giat menaiki trotoar, melindas genangan comberan, meliuk gesit diantara dua sedan.
Dua hari yang lalu, gue lagi asyik melamun ditengah kemacetan, diatas motor. Memandangi gedung Jakarta dari sela-sela ranting pohon yang masih basah karena hujan. Tiba-tiba gue tergangu sama motor di depan gue yang mulai belingsatan. Dia kejebak di sela-sela mobil dan gue dibelakangnya. Kayanya ngga sabar banget pengen keluar, padahal jalanan asli padat abiiisss... Terus gue melirik ke pinggiran jalan. Berderet motor emang lagi jalan diatas trotoar, semua ingin jadi yang terdepan.
Kayanya si motor depan gue itu sangat terintimidasi sama mereka....
Gue juga pernah merasa terintimidasi sama seorang cewe. Teman yang gue kenal di tempat kerja gue yang lama. Dia cantik, pinter ngomong, anggun, dan menyenangkan. Kadang gue ngerasa nggak bener nih... kaya gue pengen memeluk dia sekaligus mencekiknya dalam waktu bersamaan. Gue pernah merasa iri. Pernah juga merasa cemburu. Dan kalau gue pikir-pikir, perasaan yang gue rasain ke cewe itu sama sekali bukan kedua-duanya. Aneh.
Mungkin gue merasa terintimidasi sama dia. Nggak tau karena apa. Apa mungkin gue merasa terancam? Terancam apa? Ih beneran deh, nggak ngerti. Dan gue suka sama dia, sebenernya. Bukan tipe yang bakal gue lihat dengan mengernyit.
Setelah banyak waktu yang dengan tidak berguna gue habiskan untuk menganalisa perasaan gue, gue berkesimpulan, perasaan ini sama ketika gue ada di kelas 1 SD. Gue punya temen namanya Ika. Selama dua caturwulan berturut-turut gue selalu juara 1, sampai caturwulan ketiga, dia tiba-tiba menggantikan posisi gue. Gue lengser keprabon.... Dan gue ngga benci dia. Gue hanya jadi terintimidasi. Terintimidasi.
Perasaan yang seharusnya tidak membuat hati kita terkorosi...
Cheers,
-ajeng-
30.1.09
so, are you friend or foe...?
Manusia mungkin memang benar mahluk terkejam yang pernah diciptakan oleh Tuhan....Selain bunglon, cuma manusia yang bisa menampakkan dua sisi dirinya yang berlainan dalam waktu yang sangat singkat, bukankah benar begitu? Oh wait... bunglon merubah warna tubuh sesuai tempat menempelnya untuk mengecoh bakal mangsanya. Suatu sistem mempertahankan diri yang alami untuk mencari makan. Manusia? Untuk apa manusia begitu sering mengubah sikap, dan dengan begitu gampangnya pula? Ah, manusia memang rumit. Terlalu njlimet untuk dipahami. Apalagi sekarang, dimana kita hidup di era dimana bahkan psikiaterpun punya psikiater.
Dan ah.... betapa susahnya untuk disukai oleh kumpulan mahluk kejam ini....
Tidak cukupkah, setiap kali pulang dari tempat jauh, oleh-oleh yang kubawa untuk kalian? Masih kurang, percakapan tentang hal-hal remeh temeh yang sebenarnya akupun menganggapnya tak penting, tapi kubicarakan juga karena aku tak tahu apa lagi yang bisa kita bahas selain basa-basi? Tak bisa ya, dengan tertawa keras-keras untuk setiap gojekan yang kau katakan? Lalu, apa?
Mmmm... apa aku harus menyukai hal-hal yang kalian semua -masyarakat majemuk- sukai, supaya perbincangan asing ini lebih bisa aku ikuti? Tapi perkembangan teknologi yang kalian -masyarakat majemuk- anut ternyata begerak lebih cepat dari otak tuaku yang letih. Yang sepertinya sudah cukup penat memikirkan hal-hal lain dalam kehidupan pribadiku (yang tentu saja kalian semua tak bakal pernah mengerti, mendengarkan saja tak pernah). Umph!
Kalau aku memilih untuk menjauh sejenak dari kalian, berada di kursiku sendiri yang jauh dari tempat kalian -masyarakat f**kin' majemuk- nongkrong (it's how you say it, right?), kalian bilang aku bersembunyi. Menyendiri. Menutup diri. Mengisolasi diri. Lalu kalian sebut aku apa? Geek? Freak? Aneh?? ... Anehhh???!!! Ah, kalian yang aneh!
Di depanku kalian tersenyum. Di belakangku kalian merayakan keanehanku. Menertawakan kekonyolanku. Menghina usahaku untuk fit in.
...dan kalian menyebut diri kalian 'teman'?
Aku... mungkin sedikit berbeda dari kalian semua -masy..... ah, nggak ada gunanya-. Aku hanya ingin diterima dengan tulus. Kalian toh tidak perlu menyukaiku untuk bisa menerimaku, kan? Setidaknya kalian bisa menghargai semua usahaku untuk menjadi satu diantara kalian. Tanpa dihakimi.
Cheers,
-ajeng-
and what makes you think that this is about me?
26.12.08
This Holiday Sucks....
For me, personally... tanpa bermaksud curhat, karena gue melewatkannya dengan kesendirian dan kesepian yang menyayat *halah*
Being alone is one thing, but being desperately poor, is definitely another thing... Harusnya gue bisa jalan-jalan ke mall-mall jakarta yang ditinggalkan sebagian penduduknya bermigrasi, but nooooo... gue harus menahan hasrat belanja, for I have rarely anything to spend! Menjemukan...
So I started thinking, maybe I can take something out of it... *temen-temen gue pada pulang kampung, cowok gue masih sibuk bekerja* spend some quality time with myself, only cheaper than usual...
Dari semua yang bisa gue lakukan tanpa uang, I came up with: baca-baca buku *yang baru gue beli dengan uang terakhir gue*, mengingat sedikit cara-cara bermeditasi *hell yea...*, dan mengurangi hasrat ngemil.
So basically, that's what I've been doing, and continue doing, sampe liburan jelek ini berakhir :p
Cheers,
-ajeng-
Being alone is one thing, but being desperately poor, is definitely another thing... Harusnya gue bisa jalan-jalan ke mall-mall jakarta yang ditinggalkan sebagian penduduknya bermigrasi, but nooooo... gue harus menahan hasrat belanja, for I have rarely anything to spend! Menjemukan...
So I started thinking, maybe I can take something out of it... *temen-temen gue pada pulang kampung, cowok gue masih sibuk bekerja* spend some quality time with myself, only cheaper than usual...
Dari semua yang bisa gue lakukan tanpa uang, I came up with: baca-baca buku *yang baru gue beli dengan uang terakhir gue*, mengingat sedikit cara-cara bermeditasi *hell yea...*, dan mengurangi hasrat ngemil.
So basically, that's what I've been doing, and continue doing, sampe liburan jelek ini berakhir :p
Cheers,
-ajeng-
11.12.08
in a moment of solitude
Kesendirian seakan selalu terkonotasi dengan kesepian.
Gue sering melihat orang-orang meremehkan orang-orang yang sendirian, meskipun tak sepenuhnya kesepian. Memandang aneh kepada orang-orang yang makan sendirian, "Ih, tu orang ngga punya temen apa ya?"
Jaman gue kuliah dan masih menganut paham feminisme dan gothic-isme berlebih, gue sering banget kemana-mana sendiri dan merasa sombong. Bahwa 'sendiri' itu eksotis dan misterius, menambah daya tarik gue, hahaha. Ngga tau juga sih pikiran itu darimana.
Semakin gede, ternyata hakikat gue sebagai makhluk sosial mengambil alih. Karena dan untuk sesuatu yang normal, gue mulai menikmati nge-geng dan pergi kemana-mana seperti rombongan bison. Rame dan rusuh.
Lalu gue merindukan sendiri. Merindukan sepi. Merindukan nikmatnya merasakan dunia berpusat kepada diri sendiri, tak perlu berbagi. Walaupun cuma sehari tadi, tapi cukup membuat gue merasa legaaaa... I mean, legaaaaa..... ngga berebut udara sama orang lain. Bukannya gue merasa sumpek bareng temen-temen dan pacar di Jakarta, it's just another kind of delight I haven't felt for quite some time.
ah ya...sedikit oleh-oleh dari 'pertapaan' gue.... I know I'm not a pro photographer or anything, but I really like the pictures I took this afternoon. I think they're great.




*ok, cukup bertapanya...gue mo siap2 jalan, meeting an old friend, ahahahaha*
Cheers,
-ajeng-
Gue sering melihat orang-orang meremehkan orang-orang yang sendirian, meskipun tak sepenuhnya kesepian. Memandang aneh kepada orang-orang yang makan sendirian, "Ih, tu orang ngga punya temen apa ya?"
Jaman gue kuliah dan masih menganut paham feminisme dan gothic-isme berlebih, gue sering banget kemana-mana sendiri dan merasa sombong. Bahwa 'sendiri' itu eksotis dan misterius, menambah daya tarik gue, hahaha. Ngga tau juga sih pikiran itu darimana.
Semakin gede, ternyata hakikat gue sebagai makhluk sosial mengambil alih. Karena dan untuk sesuatu yang normal, gue mulai menikmati nge-geng dan pergi kemana-mana seperti rombongan bison. Rame dan rusuh.
Lalu gue merindukan sendiri. Merindukan sepi. Merindukan nikmatnya merasakan dunia berpusat kepada diri sendiri, tak perlu berbagi. Walaupun cuma sehari tadi, tapi cukup membuat gue merasa legaaaa... I mean, legaaaaa..... ngga berebut udara sama orang lain. Bukannya gue merasa sumpek bareng temen-temen dan pacar di Jakarta, it's just another kind of delight I haven't felt for quite some time.
ah ya...sedikit oleh-oleh dari 'pertapaan' gue.... I know I'm not a pro photographer or anything, but I really like the pictures I took this afternoon. I think they're great.
*ok, cukup bertapanya...gue mo siap2 jalan, meeting an old friend, ahahahaha*
Cheers,
-ajeng-
3.12.08
...dan bukankan rasa bosan dan tidak puas itu yang membuat kita terus maju?
Sampai saat ini, gue masih belum bisa menemukan cara lain untuk mengatasi rasa jenuh selain dengan bekerja. Bahkan ketika rasa bosan itu hinggap dalam kerja. Atau dalam berteman. Atau dalam berkarya. Atau dalam mengekspresikan intelektualitas. Atau dalam menulis. Atau dalam hidup.
Bekerja, bekerja, bekerja.
*menulis blog juga satu cara menumpas kebosanan, hehehe...*
Cheers,
-ajeng-
Bekerja, bekerja, bekerja.
*menulis blog juga satu cara menumpas kebosanan, hehehe...*
Cheers,
-ajeng-
29.10.08
this feeling is a new sensation...
Jadi gue berada di tempat baru. Memasuki ruang kerja baru, dengan orang-orang baru. Oh, how I hate too much changes at one time...
Sejak dulu, gue mungkin bukan orang yang bisa cepat beradaptasi dengan environment baru. Stangers scared me all the time. Lo ngga tau gimana mereka, belajar mengenali maksud-maksud apa dibalik senyuman bersahabat itu...It's scary.
Untng gue punya cara jitu *alah, apa sih* biar ngga terlalu merasa terasing. Sempatkan diri untuk basa-basi yang biasa biar ngga dituduh autis, trus kembali ke kursi sendiri. Membayangkan pojokan cafe bersofa empuk yang kerap gue datangi sama Anggi selama berjam-jam di masa kuliah. Imagine the smell of the coffee blended, the rain tickles it's roof, the laughters and the gossips for hours...
And it feels like home again
Cheers,
-ajeng-
Sejak dulu, gue mungkin bukan orang yang bisa cepat beradaptasi dengan environment baru. Stangers scared me all the time. Lo ngga tau gimana mereka, belajar mengenali maksud-maksud apa dibalik senyuman bersahabat itu...It's scary.
Untng gue punya cara jitu *alah, apa sih* biar ngga terlalu merasa terasing. Sempatkan diri untuk basa-basi yang biasa biar ngga dituduh autis, trus kembali ke kursi sendiri. Membayangkan pojokan cafe bersofa empuk yang kerap gue datangi sama Anggi selama berjam-jam di masa kuliah. Imagine the smell of the coffee blended, the rain tickles it's roof, the laughters and the gossips for hours...
And it feels like home again
Cheers,
-ajeng-
11.10.08
It's funny how life goes on...
Beberapa minggu yang lalu, gue samar-samar mengingat sepotong percakapan yang terjadi antara gue dan Indradi di depan lift lantai lima. Tentang bagaimana gue, dia, kiki, dhimas, niken, ucup, dan julty mungkin akan terperangkap disini selamanya - sementara nama-nama lain satu per satu mulai melangkahkan kaki ke tempat yang lebih baik-
Kami dulu dipersatukan oleh persamaan nasib, gue rasa. Nasib, dan antusiasme merengkuh pekerjaan pertama selepas kuliah. Jika memang ada yang benar-benar mengikat kami untuk akur, adalah LM, atasan yang membawahi kami.
Satu setengah tahun kemudian, tak ada yang beranjak.
Lalu ada gue.
Hanya dalam hitungan hari, gue akan meninggalkan tempat ini.
Meninggalkan tempat ini......sounds funny....
Mass media is my life. And television is a complete reflection of a perfect- audio visual- kind of mass media. Tapi gue memilih untuk meninggalkannya untuk passion gue yang lain, menulis *in addition to a one way to escape this building*
But life goes on, though i can't help feeling a bit melancholic about it...It's always hard to leave something that we are used to for so long.
Cheers,
-ajeng-
Kami dulu dipersatukan oleh persamaan nasib, gue rasa. Nasib, dan antusiasme merengkuh pekerjaan pertama selepas kuliah. Jika memang ada yang benar-benar mengikat kami untuk akur, adalah LM, atasan yang membawahi kami.
Satu setengah tahun kemudian, tak ada yang beranjak.
Lalu ada gue.
Hanya dalam hitungan hari, gue akan meninggalkan tempat ini.
Meninggalkan tempat ini......sounds funny....
Mass media is my life. And television is a complete reflection of a perfect- audio visual- kind of mass media. Tapi gue memilih untuk meninggalkannya untuk passion gue yang lain, menulis *in addition to a one way to escape this building*
But life goes on, though i can't help feeling a bit melancholic about it...It's always hard to leave something that we are used to for so long.
Cheers,
-ajeng-
Subscribe to:
Posts (Atom)