Kata-kata indah melayang ke angkasa, menyusup di rongga awan lalu jatuh bersama rinai hujan. Membasahi tanah, melesap tak tepermanai. Meninggalkan sepi menggenggam sebait puisi yang tak lagi berarti.
Aku. Menari. Sendiri.
untuk dunia yang diawali di surga dan berakhir di neraka
14.2.12
19.1.12
The Next...
Mari mencoba menipu waktu
Lalu berpura-pura menafikkan fakta
Dan menghilang sejenak bersama dentuman lagu
Setelah itu bicara,tentang apa saja
Sesungguhnya aku tak peduli asal kau terus bicara
Mengisi ruang-ruang kosong
Yang selama ini senyap tanpa kata
Mari menertawakan masa lalu yang dulu ditangisi
Dan bahagia sebelum luka menemukan jejaknya kembali
Let me be lost in you
Again and again
Until our next goodbye...
Lalu berpura-pura menafikkan fakta
Dan menghilang sejenak bersama dentuman lagu
Setelah itu bicara,tentang apa saja
Sesungguhnya aku tak peduli asal kau terus bicara
Mengisi ruang-ruang kosong
Yang selama ini senyap tanpa kata
Mari menertawakan masa lalu yang dulu ditangisi
Dan bahagia sebelum luka menemukan jejaknya kembali
Let me be lost in you
Again and again
Until our next goodbye...
22.11.11
Cerita Tentang Hujan di Bulan November
Hujan. Katamu kau mau menembusnya buatku.... "Ayo, kita sama-sama," bilangmu.
"Ingatkah kamu, hujan di bulan Desember dulu?" lanjutmu bersemangat. Tentu aku ingat. Saat itu kita bergulat dengan rasa, bergelut dengan mesra. Bertukar puisi dan memandangi ufuk matahari. Tapi itu dulu saat hidup terasa begitu berbeda.
"Apa yang berbeda? Kita serupa," katamu. Bukan, bukan hanya serupa. Kita adalah kaca. Kita sama. Kau Utara dan aku Utara. Maka seperti dua mata kompas, kita tak bisa bersama. Sekeras apapun berusaha, nasib memang tak menyatukan kita. "Mengapa?" Entah. Aku juga mempertanyakan hal yang sama.
Hujan semakin lebat. "Aku mau menembusnya. Mencari bayanganmu, entah di mana," ujarmu seperti mulai menyerah. Aku tak bisa menahanmu, kan, ya? Seperti kau yang tak mampu menahanku dengan keinginan-keinginanku untuk berjalan ke Selatan. Berharap menemukan mata kompas yang lain.
Mungkin sudah saatmu menuju Selatan juga, mencari kutub yang bisa menarikmu. Namun kau tak suka Selatan, katamu kau hanya mau Utara. "Aku ingin kaca yang baru." Ah, keras kepala!
Bulir air hujan merambati kisi-kisi jendela, melembabkan senja di bulan November. Gerimis pecah saat kau dan aku berlari di bawahnya. Menembus hujan bersama, tapi tak untuk bersama.
"Sedihnya, hujan November kini akan selalu mengingatkanku padamu," ujarku setelah semua berlalu.
"Jangan sedih," katamu akhirnya. Nanti, suatu saat nanti. Hujan tak akan lagi meneteskan duka, meretas luka. Nanti hujan akan memulihkan luka itu.
"Ingatkah kamu, hujan di bulan Desember dulu?" lanjutmu bersemangat. Tentu aku ingat. Saat itu kita bergulat dengan rasa, bergelut dengan mesra. Bertukar puisi dan memandangi ufuk matahari. Tapi itu dulu saat hidup terasa begitu berbeda.
"Apa yang berbeda? Kita serupa," katamu. Bukan, bukan hanya serupa. Kita adalah kaca. Kita sama. Kau Utara dan aku Utara. Maka seperti dua mata kompas, kita tak bisa bersama. Sekeras apapun berusaha, nasib memang tak menyatukan kita. "Mengapa?" Entah. Aku juga mempertanyakan hal yang sama.
Hujan semakin lebat. "Aku mau menembusnya. Mencari bayanganmu, entah di mana," ujarmu seperti mulai menyerah. Aku tak bisa menahanmu, kan, ya? Seperti kau yang tak mampu menahanku dengan keinginan-keinginanku untuk berjalan ke Selatan. Berharap menemukan mata kompas yang lain.
Mungkin sudah saatmu menuju Selatan juga, mencari kutub yang bisa menarikmu. Namun kau tak suka Selatan, katamu kau hanya mau Utara. "Aku ingin kaca yang baru." Ah, keras kepala!
Bulir air hujan merambati kisi-kisi jendela, melembabkan senja di bulan November. Gerimis pecah saat kau dan aku berlari di bawahnya. Menembus hujan bersama, tapi tak untuk bersama.
"Sedihnya, hujan November kini akan selalu mengingatkanku padamu," ujarku setelah semua berlalu.
"Jangan sedih," katamu akhirnya. Nanti, suatu saat nanti. Hujan tak akan lagi meneteskan duka, meretas luka. Nanti hujan akan memulihkan luka itu.
11.2.11
Tentang Mama - Keping Kedua
I don't know why it took me so long to write this piece. Maybe because I was afraid I might burst into tears writing it. I sometimes still do just by thinking about it. How my life has changed so so much after she's gone. How much space left unfulfilled. Just hollow.
But I wasn't meant to write about me. It's about you, mommy...
Mama adalah seseorang yang sangat mencintai kehidupan, meskipun sebagai balasan, kehidupan berkali-kali mencuranginya.
Kalau ada perkumpulan orang-orang naif yang menganggap semua orang di dunia adalah orang baik, Mama mungkin berdiri di antrean pertama untuk jadi anggota. Kenaifan ala anak kampung inilah yang kemudian membuatnya terikat pernikahan dengan orang yang (sepertinya) dari awal tak pernah dicintainya.
"My marriage was hell," ceritanya kepada kami, bertahun-tahun setelah pernikahannya berakhir.
We understand. We were also there. Mama adalah pelukan tempat kami meringkuk ketika tengah malam pintu digedor bapak-bapak penagih hutang. Mama adalah perlindungan saat amukan dari mulut berbau alkohol datang tiba-tiba. Mama adalah senyum setiap pagi setelah malam yang berat dan panjang.
Butuh keberanian luar biasa untuk mengepak pakaian seadanya dan kembali ke rumah orangtuanya. Ke rumah dimana semua orang berkata "I told you!", dan memulai lembaran baru.
Kami. Kami, anak-anaknya, adalah sumber kekuatan yang luar biasa bagi Mama. Untuk kami, Mama melakukan segalanya. Cintanya selalu membludak, luber, tak pernah surut. Hingga dosa kami pun rela ditanggungnya, seumpama dia bisa. We love you back, mommy. With all our heart.

the three of us trying to conquer the world
Mama... wanita mulia ini hingga akhir hidupnya tak memaafkan pria itu. Biarlah saya disebut berdosa, tapi dalam hati, saya juga tidak.
For 27 years of being absence in my life, no, I wont forgive you. You can adopt a child and call it you second chance, but your chance with me is over.
For never stop defending yourself, and never stop blaming my mother, and NEVER EVER SAID YOU'RE SORRY for hurting us. I will not forget.
-ajeng-
But I wasn't meant to write about me. It's about you, mommy...
Mama adalah seseorang yang sangat mencintai kehidupan, meskipun sebagai balasan, kehidupan berkali-kali mencuranginya.
Kalau ada perkumpulan orang-orang naif yang menganggap semua orang di dunia adalah orang baik, Mama mungkin berdiri di antrean pertama untuk jadi anggota. Kenaifan ala anak kampung inilah yang kemudian membuatnya terikat pernikahan dengan orang yang (sepertinya) dari awal tak pernah dicintainya.
"My marriage was hell," ceritanya kepada kami, bertahun-tahun setelah pernikahannya berakhir.
We understand. We were also there. Mama adalah pelukan tempat kami meringkuk ketika tengah malam pintu digedor bapak-bapak penagih hutang. Mama adalah perlindungan saat amukan dari mulut berbau alkohol datang tiba-tiba. Mama adalah senyum setiap pagi setelah malam yang berat dan panjang.
Butuh keberanian luar biasa untuk mengepak pakaian seadanya dan kembali ke rumah orangtuanya. Ke rumah dimana semua orang berkata "I told you!", dan memulai lembaran baru.
Kami. Kami, anak-anaknya, adalah sumber kekuatan yang luar biasa bagi Mama. Untuk kami, Mama melakukan segalanya. Cintanya selalu membludak, luber, tak pernah surut. Hingga dosa kami pun rela ditanggungnya, seumpama dia bisa. We love you back, mommy. With all our heart.

the three of us trying to conquer the world
Mama... wanita mulia ini hingga akhir hidupnya tak memaafkan pria itu. Biarlah saya disebut berdosa, tapi dalam hati, saya juga tidak.
For 27 years of being absence in my life, no, I wont forgive you. You can adopt a child and call it you second chance, but your chance with me is over.
For never stop defending yourself, and never stop blaming my mother, and NEVER EVER SAID YOU'RE SORRY for hurting us. I will not forget.
-ajeng-
7.2.11
40 Hari Kepergian Mama
Ya Allah, ampunilah mama dengan pengampunan menyeluruh, sehingga terhapus dosa-dosanya yang lalu & kesalahan-kesalahan yang dilakukannya secara sadar.
Berbuat baiklah kepada mama dengan berlipat ganda dari perbuatan mama kepada kami.
Pandanglah mama dengan pandangan rahmat & kasih sayang, karena mama memandang kami demikian.
Anugerahilah mama keterbebasan dari kecaman-Mu akibat melalaikan hak-Mu demi memelihara & memberikan kasih sayang terhadap kami.
Ampuni mama jika dia kurang menunaikan kewajibannya mengabdi kepada-Mu karena dia mendahulukan melayani kami.
Jangan Engkau biarkan mama mengetahui berita-berita kami yang tidak menyenangkannya dan jangan juga bebani dia dengan dosa-dosa kami yang kelak memberatkan mereka.
Jadikanlah kami buat mama sebagai penyejuk mata di hari kebangkitan nanti.
Jadikanlah mama termasuk kelompok orang tua yang paling berbahagia dengan anak-anaknya sampai Engkau menghimpun kami kelak di negeri kemuliaan-Mu.
-ajeng-
*doa untuk orangtua oleh Quraish Shihab dengan modifikasi*
Berbuat baiklah kepada mama dengan berlipat ganda dari perbuatan mama kepada kami.
Pandanglah mama dengan pandangan rahmat & kasih sayang, karena mama memandang kami demikian.
Anugerahilah mama keterbebasan dari kecaman-Mu akibat melalaikan hak-Mu demi memelihara & memberikan kasih sayang terhadap kami.
Ampuni mama jika dia kurang menunaikan kewajibannya mengabdi kepada-Mu karena dia mendahulukan melayani kami.
Jangan Engkau biarkan mama mengetahui berita-berita kami yang tidak menyenangkannya dan jangan juga bebani dia dengan dosa-dosa kami yang kelak memberatkan mereka.
Jadikanlah kami buat mama sebagai penyejuk mata di hari kebangkitan nanti.
Jadikanlah mama termasuk kelompok orang tua yang paling berbahagia dengan anak-anaknya sampai Engkau menghimpun kami kelak di negeri kemuliaan-Mu.
-ajeng-
*doa untuk orangtua oleh Quraish Shihab dengan modifikasi*
3.1.11
Tentang Mama - Keping Pertama

Her picture when she was young
Kami berduka. Mama pergi selamanya pada 28 Desember 2010 lalu dengan cara yang paling mengejutkan. Pembuluh darah di pangkal otak mama pecah akibat tensinya naik. Darah tinggi memang salah satu penyakit yang sudah lama diderita mama. Tragisnya, peristiwa itu terjadi di Brebes. Sebuah kota yang terletak kira-kira di pertengahan Jakarta dan Salatiga. Ya, malam itu mama sedang dalam perjalanan kembali ke Salatiga dari rumah kami di Jakarta. Ya, sebelumnya mama sehat wal afiat, bahagia dan ceria.
Mama adalah pusat kehidupan kami, anak-anaknya. Ibaratnya kipas angin, mama adalah poros. Dan kami adalah baling-baling yang berputar, dari dan menuju poros itu. Semua yang kami lakukan adalah untuk mama. Berlebihan? Mungkin iya, bagi sebagian orang. Tapi tidak untuk kami. Dibesarkan oleh mama seorang diri di sebagian besar hidup kami, kami terbiasa berlomba-lomba membuat mama bangga.
Maka, kehilangan yang tiba-tiba ini membuat kami gamang. Lalu, setengah gila kami mengais-ngais memori akan hari-hari terakhir mama yang (syukurnya) beliau lewati bersama kami di Jakarta. Kami mencari-cari pertanda, firasat, atau apapun yang seharusnya mama tunjukkan agar kami siap ditinggalkan. Dan seperti cerita orang-orang yang sudah pernah ditinggal mati, ternyata pertanda-pertanda yang kami cari sudah berserakan dimana-mana (berdasarkan tingkah laku mama sebelum meninggal). Tapi tak sedikitpun kami sadari.
Beberapa bulan terakhir mama memang kerap menyinggung perihal kematian. Beliau bahkan dengan spesifik menyebutkan ingin dimakamkan dimana dan pengajian seperti apa yang harus kami gelar untuk mendoakan beliau nantinya. Mama yang tadinya aktif sebagai bendahara di berbagai kegiatan sosialnya pun sudah mengundurkan diri secara resmi sebelum berpulang, seakan-akan membereskan urusan duniawinya. Pertanda ini dan banyak lagi akhirnya menyadarkan batin kami: mama sudah siap. Maka tugas kami tinggal satu: merelakannya.
Terus terang, awalnya sulit bagi saya untuk merelakan kenyataan bahwa mama saya harus pergi dengan cara itu. Di sebuah kota yang tak punya makna secara personal bagi kami, sendirian, entah di UGD Rumah Sakit atau di dalam bus malam (sampai kini kami tak tahu pasti). Saya tidak rela!
Bayangan saya, kalau suatu hari harus kehilangan mama, adalah mirip dengan adegan dalam film. Dikelilingi keluarga tercinta, yang satu memeluk mama dan yang lain memegang tangannya yang sudah renta. Dengan latar belakang Rumah Sakit dan bunyi 'tuuuuut' panjang salah satu mesinnya, pertanda para dokter sudah berusaha maksimal mempertahankan nyawanya. Atau di rumah, setelah memberikan wasiat kepada anak dan menantunya, mama pamit tidur namun tak bangun-bangun lagi. Itu bayangan saya. Tidak ada yang terwujud.
Sebuah percakapan terakhir dengan mama tiba-tiba terlintas setelah kami menggelar pengajian tujuh harian mama di Salatiga. Saya ingat, saat itu mama sedang menemani saya menidurkan Khalid. Entah kenapa, mama mengamati garis telapak tangannya. Lalu meminta tangan saya dan melakukan hal yang sama.
"Kok garis tangan bisa beda-beda begini, ya, Nduk?" kata mama. Beliau kemudian mengambil tangan Khalid dan meneliti juga garis tangannya.
"Emang bayi garis tangannya udah bisa dibaca, ma? Orang kalo mau tes sidik jari aja minimal usia 2 tahun," samber saya sok tahu.
Jawab mama, "Sudah, dong. Nasib kita, hidup mati kita ini, semua sudah digariskan sama Allah bahkan sebelum kita lahir."
Sesudah mengingat percakapan itu, kok, pikiran saya lebih enteng. Hati saya merelakan mama pergi, bagaimanapun caranya dan dimanapun tempatnya, karena saya percaya Allah sudah berkehendak begitu.
Brebes, sekitar tujuh jam dari Jakarta dan enam jam dari Salatiga. Mama dipanggil Sang Penguasa Hidup tepat di tengah-tengah dua kota yang dicintai mama. Jakarta, kota dimana anak cucunya tinggal, tempat yang ditujunya setiap kali libur mengajar. Dan Salatiga, dimana seluruh hidupnya berjalan.
Saya ikhlas.
9.12.10
Bayiku!
Gigimu empat sekarang
Siang tadi kamu udah bisa jalan tiga langkah
Hobimu sekarang, kok, gitu, nak?
Naik odong-odong sampai ketiduran
Naik sepeda sambil muter-muter lapangan
Maaf, ya, nak kalau di banyak momen besarmu Ibu ngga ada untuk melihat
Mungkin Ibu lagi ngetik di kantor
Atau lagi makan siang sama teman-teman
Bisa jadi ibu lagi merah susu kamu
Tapi setiap kali ada cerita baru tentang kamu,
Ibu bahagia, bangga, terharu
Semua jadi satu
Dan ibu harus puas mendengar kelakuan lucumu dari cerita saja
Soalnya kalau Ibu pulang kamu udah bobok
Kecapekan karena seharian main tanpa henti
Lucunya kamu, bayiku!

Cheers,-ajeng-
Siang tadi kamu udah bisa jalan tiga langkah
Hobimu sekarang, kok, gitu, nak?
Naik odong-odong sampai ketiduran
Naik sepeda sambil muter-muter lapangan
Maaf, ya, nak kalau di banyak momen besarmu Ibu ngga ada untuk melihat
Mungkin Ibu lagi ngetik di kantor
Atau lagi makan siang sama teman-teman
Bisa jadi ibu lagi merah susu kamu
Tapi setiap kali ada cerita baru tentang kamu,
Ibu bahagia, bangga, terharu
Semua jadi satu
Dan ibu harus puas mendengar kelakuan lucumu dari cerita saja
Soalnya kalau Ibu pulang kamu udah bobok
Kecapekan karena seharian main tanpa henti
Lucunya kamu, bayiku!

Cheers,-ajeng-
Subscribe to:
Posts (Atom)