Hi, baby... Mommy's silly monkey... how are you inside?
Saat ini ditulis, kamu udah berusia 25 minggu. Menurut website-website perkembangan bayi, badan kamu udah lengkap semuanya. Kalo menurut Ibu, sih, kaki kamu pasti udah ada dan sangat kuat. Secara nendangnya ngga ampun-ampun kencengnya, hehe..
Kata sebuah iklan, nak, terakhir kali manusia bebas adalah masa sebelum dia dilahirkan. Setelah itu, hidup pasti nggak bisa lagi borderless atay limitless. Kemarin, Ibu kepikiran, alangkah enaknya kalau kamu ada di perut aja terus, haha. Karena Ibu takut nanti kalau kamu udah keluar, ke dunia yang enggak sempurna ini, kamu akan kecewa. Kecewa sama Ibu yang mungkin ngga bisa jadi the best mommy buat kamu. Ibu enggak bakalan bisa jagain kamu tiap hari, ngajarin kamu, ngenalin kamu dengan dunia.
Kalo kamu tetep di perut Ibu, kan, semuanya lebih gampang. Ibu bisa jaga makanan ibu, karena kamu pun makanannya manut Ibu. Ibu bisa ngga deket-deket rokok atau alkohol buat kamu. Kalo kamu udah keluar, kamu bisa aja sembunyi-sembunyi nyari rokok atau alkohol, kan?
Eh, kejauhan ya mikirnya? hehe...
Enggak deng, Ibu mau ketemu kamu, kok. April nanti, ya. Bye now, my silly monkey. Just so you know, I love you even before I met you...
Cheers,
-ajeng-
untuk dunia yang diawali di surga dan berakhir di neraka
23.12.09
6.11.09
Being Pregnant is... A Journey from G-Strings to Grandma-Panties
All the books say the months of pregnancy are nine amazing ones. Amazing?? with the morning sickness and all? err...don't think so.
Not that i'm not grateful or anything. Pertama kali tahu kalo gw hamil, gw ngga tau gimana harus mendeskripsikan perasaan gw, mungkin ada diantara seneng dan nolak. Persis seperti yang gw baca di buku-buku panduan tentang kehamilan, hihihi.
But now I'm waaaay over that period, anyway. Sekarang gue baru melewati period dimana perut gw membesar dengan dramatis-it-scares-me! Here are some 'amazing' stuff I and my belly have encountered so far:
Gw baru benar2 tersadar gue hamil saat belanja bareng nyokap. Dia mengusulkan gw beli celana dalem kolor size XL (grandma panties) biar gw merasa lebih nyaman. Padahal sebelum hamil, I would no doubt chose a g-string over kolor. Setelah gw coba, ternyata gw emang lebih nyaman pake grandma pants itu *sob*.
Tiba-tiba banyak orang yang *sepertinya* berhasrat untuk ngelus-ngelus perut gw. Ngga di kantor, ngga pas liputan. People I don't really know freely touches my belly! Awalnya, sih, gw agak risih. I thought belly is really private area, right? Like, you don't touch a woman's breasts in public just because they look cute (even if you are a woman too). But I really have to get used to it *my belly, not my breast. sigh*
Some people are still insist on not giving their chair on a crowded bus. I dunno whether they are blind or simply just some ignorant-snub. I decided not to consider them as human, in the end, to avoid myself trapped in a useless anger. Ngedongkol sambil tetep berdiri tuh secara emosional sangat melelahkan!!
Well, I would looove to tell you more about how crappy it is being pregnant, but the excitements and joys truly beats the bad-stuff. So, ntar cerita-cerita lagi lah, sekarang gue mo istirahat dan ngemil dulu, haha.
Cheers,
-ajeng-
Not that i'm not grateful or anything. Pertama kali tahu kalo gw hamil, gw ngga tau gimana harus mendeskripsikan perasaan gw, mungkin ada diantara seneng dan nolak. Persis seperti yang gw baca di buku-buku panduan tentang kehamilan, hihihi.
But now I'm waaaay over that period, anyway. Sekarang gue baru melewati period dimana perut gw membesar dengan dramatis-it-scares-me! Here are some 'amazing' stuff I and my belly have encountered so far:
Gw baru benar2 tersadar gue hamil saat belanja bareng nyokap. Dia mengusulkan gw beli celana dalem kolor size XL (grandma panties) biar gw merasa lebih nyaman. Padahal sebelum hamil, I would no doubt chose a g-string over kolor. Setelah gw coba, ternyata gw emang lebih nyaman pake grandma pants itu *sob*.
Tiba-tiba banyak orang yang *sepertinya* berhasrat untuk ngelus-ngelus perut gw. Ngga di kantor, ngga pas liputan. People I don't really know freely touches my belly! Awalnya, sih, gw agak risih. I thought belly is really private area, right? Like, you don't touch a woman's breasts in public just because they look cute (even if you are a woman too). But I really have to get used to it *my belly, not my breast. sigh*
Some people are still insist on not giving their chair on a crowded bus. I dunno whether they are blind or simply just some ignorant-snub. I decided not to consider them as human, in the end, to avoid myself trapped in a useless anger. Ngedongkol sambil tetep berdiri tuh secara emosional sangat melelahkan!!
Well, I would looove to tell you more about how crappy it is being pregnant, but the excitements and joys truly beats the bad-stuff. So, ntar cerita-cerita lagi lah, sekarang gue mo istirahat dan ngemil dulu, haha.
Cheers,
-ajeng-
17.7.09
Jakarta's Public Busses - A One-Stop Shopping and Entertainment
Transportasi memang selalu jadi bahasan menarik di Ibukota. Mulai dari macet jalanannya, bobrok bis-bisnya, copet di dalamnya, dan penjual kaki limanya.
Sejak berkenalan dengan busway, gue emang ngga sesering dulu naik bis kota. Jaman masih idup di Mampang, perjalanan ke kantor emang selalu dengan bis bernomor 46. Bisnya guedeee, rongsokan dari bis Jepang, kayanya. Mesinnya butut, jendelanya lebar-lebaaar, mayan kalo mau ngadem. Cuma, ya itu, penuhnya na'ujubile deh! Apalagi kalo jam-jam sibuk, kaya jam berangkat ato pulang kantor.
Nah, beberapa hari yang lalu, gue berkesempatan naik bis ini pas jam yg belum sibuk, jam 4-an gitu lah. Jadilah bis itu ngga terlalu sesak dengan banyaknya orang yang berdiri *plus ngga terlalu bau ketek dari mereka yang pegangan diatas, huehee..*
Gue kan orangnya emang suka merhatiin hal-hal yang ngga penting gitu ya, ciiin... Ternyata lumayan banyak pemandangan lucu yang gue temuin di bus itu. Nah, yang mo gue ceritain sekarang adalah para penjaja-penjaja yang mobile, bapak-bapak judes di depan tempat gue duduk, dan temen gue Yetta. Hihi
Baru aja gue duduk, tiba-tiba pangkuan gue udah dijatohin buku mewarnai buat anak-anak. Ada lima macam, boy. Gambar-gambar tumbuhan, binatang, alam, huruf dan angka, semuanya hanya berupa outline aja. Siap diwarnai oleh tangan-tangan mungil putra-putri ibu bapak di rumah...
Gue, gak tertarik. Bapak-Bapak Judes (BBJ), mengibaskan tangan. Yetta, gak tertarik.
Abis si penjual ngider dan keluar dari bis, dateng lagi penjual yang lain. Kali ini yang dijual adalah buku pintar kaya RPUL *kalo jaman gue SD dulu*. Ngoceh-ngoceh bentar, langsung deh itu buku mendarat lagi di pangkuan.
Gue, gak tertarik juga. BBJ, mengibaskan tangan dengan judes. Yetta, membuka dan membaca-baca buku itu dengan malas. Alhasil kita bertiga ngga beli, dong...
Abis si penjual RPUL, datanglah pengamen. Gue lupa lagunya apaan.
Gue, ngerogoh gopek'an. BBJ, masih mengibaskan tangan sambil menambah efek dramatis buang muka. Yetta, cuek.
Eh, belom brenti juga kesibukan di bis ini. Padahal gue cuma naik dari Slipi ke Tebet, lho. Ada penjual alat pijit yang ciamik! Terbuat dari kayu, bisa buat kerok, buat urut, buat pijit, segala macem deh! Bentuknya kaya bintang ninja gitu. Harganya lima ribu. Dibandingkan dengan kegunaannya yang sangat bervariasi, ini udah dibanting banget! haha
Gue, ya gak tertariklah! BBJ, langsung beli! gue ampe kaget. Yetta, kayanya lagi ngelamun deh.
Teruuuuus, masih ada lagi. Tukang jualan pulpen. Merknya Eazy-Rite MILENO. KEnapa gue bisa apal gitu? Karena gue beli, hahahaha... Ada tiga biji, warna ijo, ungu sama oranye. Harganya murah meriah, hanya dua ribu saja. Gue beli dooong!!
Gue, ya lo tau deh. BBJ, sepertinya sudah tidak perduli keadaan sekitar. Yetta, ngeledekin gue karena gue beli pulpen-pulpen itu, huhu.
Ini gue udah mau turun di Tebet, eh masih naik lagi pengamen bapak-bapak yang bawa suling sunda. Buseeet..!
Gila kan, bus di Jakarta ini?? Bener-bener one-stop shopping and entertainment!
Cheers,
-ajeng-
Sejak berkenalan dengan busway, gue emang ngga sesering dulu naik bis kota. Jaman masih idup di Mampang, perjalanan ke kantor emang selalu dengan bis bernomor 46. Bisnya guedeee, rongsokan dari bis Jepang, kayanya. Mesinnya butut, jendelanya lebar-lebaaar, mayan kalo mau ngadem. Cuma, ya itu, penuhnya na'ujubile deh! Apalagi kalo jam-jam sibuk, kaya jam berangkat ato pulang kantor.
Nah, beberapa hari yang lalu, gue berkesempatan naik bis ini pas jam yg belum sibuk, jam 4-an gitu lah. Jadilah bis itu ngga terlalu sesak dengan banyaknya orang yang berdiri *plus ngga terlalu bau ketek dari mereka yang pegangan diatas, huehee..*
Gue kan orangnya emang suka merhatiin hal-hal yang ngga penting gitu ya, ciiin... Ternyata lumayan banyak pemandangan lucu yang gue temuin di bus itu. Nah, yang mo gue ceritain sekarang adalah para penjaja-penjaja yang mobile, bapak-bapak judes di depan tempat gue duduk, dan temen gue Yetta. Hihi
Baru aja gue duduk, tiba-tiba pangkuan gue udah dijatohin buku mewarnai buat anak-anak. Ada lima macam, boy. Gambar-gambar tumbuhan, binatang, alam, huruf dan angka, semuanya hanya berupa outline aja. Siap diwarnai oleh tangan-tangan mungil putra-putri ibu bapak di rumah...
Gue, gak tertarik. Bapak-Bapak Judes (BBJ), mengibaskan tangan. Yetta, gak tertarik.
Abis si penjual ngider dan keluar dari bis, dateng lagi penjual yang lain. Kali ini yang dijual adalah buku pintar kaya RPUL *kalo jaman gue SD dulu*. Ngoceh-ngoceh bentar, langsung deh itu buku mendarat lagi di pangkuan.
Gue, gak tertarik juga. BBJ, mengibaskan tangan dengan judes. Yetta, membuka dan membaca-baca buku itu dengan malas. Alhasil kita bertiga ngga beli, dong...
Abis si penjual RPUL, datanglah pengamen. Gue lupa lagunya apaan.
Gue, ngerogoh gopek'an. BBJ, masih mengibaskan tangan sambil menambah efek dramatis buang muka. Yetta, cuek.
Eh, belom brenti juga kesibukan di bis ini. Padahal gue cuma naik dari Slipi ke Tebet, lho. Ada penjual alat pijit yang ciamik! Terbuat dari kayu, bisa buat kerok, buat urut, buat pijit, segala macem deh! Bentuknya kaya bintang ninja gitu. Harganya lima ribu. Dibandingkan dengan kegunaannya yang sangat bervariasi, ini udah dibanting banget! haha
Gue, ya gak tertariklah! BBJ, langsung beli! gue ampe kaget. Yetta, kayanya lagi ngelamun deh.
Teruuuuus, masih ada lagi. Tukang jualan pulpen. Merknya Eazy-Rite MILENO. KEnapa gue bisa apal gitu? Karena gue beli, hahahaha... Ada tiga biji, warna ijo, ungu sama oranye. Harganya murah meriah, hanya dua ribu saja. Gue beli dooong!!
Gue, ya lo tau deh. BBJ, sepertinya sudah tidak perduli keadaan sekitar. Yetta, ngeledekin gue karena gue beli pulpen-pulpen itu, huhu.
Ini gue udah mau turun di Tebet, eh masih naik lagi pengamen bapak-bapak yang bawa suling sunda. Buseeet..!
Gila kan, bus di Jakarta ini?? Bener-bener one-stop shopping and entertainment!
Cheers,
-ajeng-
2.7.09
it's a slap.... or a downfall
When someone who barely know you descibes your mistakes in detils, you could consider it as two things, a slap in your face or a downfall. A slap, as in a reminder that you have to introspect, that maybe somehow you are not doing a great job after all. Or a downfall, as in you will be fired in three months.
In all my entire life, I have never been fired before. When I have to end a working period, it's me quitting. Not fired. Well, most people said there will always be a first time. I never thought mine will be this close.
Status quo, gue belom dipecat sih. Tapi keputusan untuk memberi waktu tiga bulan lagi sebelum re-evaluating memang membuat gue sedikit syok. Terlebih lagi, kecepatan penyebaran gosip di kantor ini yang lebih cepat daripada penyebaran flu babi di Australia memang sedikit menyebalkan. Right now, when I see people, all I can think of is, "They knew it before I did," and "They all feel so sorry for me," and "What the F, lets throw a pity-party for me,"... snap!
Yang gue rasakan sekarang, gue sedang menimbang-nimbang kemungkinan. Kemungkinan kalau gue bisa bertahan disini, atau kemungkinan gue mencari pekerjaan lagi. Kemungkinan gue menjadi salah satu dari ribuan orang yang berjibaku berebut lahan penghasilan di negeri ini *hayahhh*, and I feel like I don't have enough amo for that right now. Tapi kalo dipikir lagi, emang ada orang yang siap jadi pengangguran? hmmm..
Things are getting out of hands for me right now. People are telling me, "Don't stress out!" tapi malah bikin gue jadi makin kacau. "Jangan dipikirin," malah bikin gue makin ngga bisa tidur. "Kerja aja sebaik-baiknya tiga bulan ini," malah bikin gue jadi nggak fokus. I'm losing grip here.
Terus gue mulai membuka-buka lagi semua account di website nyari-nyari kerja. Jobstreet, jobsdb, you name it. Meng-update resume online, ngedit CV yang udah setahun disimpen aja di flashdisc. Man, I just realize that it was so exhousted! Physically and mentally. *Especially if you do it during deadline, hahaa*
Tiba-tiba, ditengah semua kegiatan menyebalkan itu, gue pengen ketawa keras-keras. Ada perasaan geli kaya dikitik-kitik yang gue sendiri ngga tau apa penyebabnya. It's funny because it's weird!
Life has an awkward sense of humour. It's like when you really really wanna cry, but you laugh instead, just to show poeple that you're strong. Funny.
Cheers,
-ajeng-
In all my entire life, I have never been fired before. When I have to end a working period, it's me quitting. Not fired. Well, most people said there will always be a first time. I never thought mine will be this close.
Status quo, gue belom dipecat sih. Tapi keputusan untuk memberi waktu tiga bulan lagi sebelum re-evaluating memang membuat gue sedikit syok. Terlebih lagi, kecepatan penyebaran gosip di kantor ini yang lebih cepat daripada penyebaran flu babi di Australia memang sedikit menyebalkan. Right now, when I see people, all I can think of is, "They knew it before I did," and "They all feel so sorry for me," and "What the F, lets throw a pity-party for me,"... snap!
Yang gue rasakan sekarang, gue sedang menimbang-nimbang kemungkinan. Kemungkinan kalau gue bisa bertahan disini, atau kemungkinan gue mencari pekerjaan lagi. Kemungkinan gue menjadi salah satu dari ribuan orang yang berjibaku berebut lahan penghasilan di negeri ini *hayahhh*, and I feel like I don't have enough amo for that right now. Tapi kalo dipikir lagi, emang ada orang yang siap jadi pengangguran? hmmm..
Things are getting out of hands for me right now. People are telling me, "Don't stress out!" tapi malah bikin gue jadi makin kacau. "Jangan dipikirin," malah bikin gue makin ngga bisa tidur. "Kerja aja sebaik-baiknya tiga bulan ini," malah bikin gue jadi nggak fokus. I'm losing grip here.
Terus gue mulai membuka-buka lagi semua account di website nyari-nyari kerja. Jobstreet, jobsdb, you name it. Meng-update resume online, ngedit CV yang udah setahun disimpen aja di flashdisc. Man, I just realize that it was so exhousted! Physically and mentally. *Especially if you do it during deadline, hahaa*
Tiba-tiba, ditengah semua kegiatan menyebalkan itu, gue pengen ketawa keras-keras. Ada perasaan geli kaya dikitik-kitik yang gue sendiri ngga tau apa penyebabnya. It's funny because it's weird!
Life has an awkward sense of humour. It's like when you really really wanna cry, but you laugh instead, just to show poeple that you're strong. Funny.
Cheers,
-ajeng-
28.5.09
Kenapa Susah Berbuat Baik?
Kemarin baru nonton SCTV, ada yang diundang, keluarga korban kecelakaan pesawat Hercules-Magetan. Ibu itu kehilangan putrinya. Anak itu, seorang gadis yang menjadi sukarelawan pengajar di pedalaman Papua. Dari jurnal yang belakangan ditemukan si ibu, anak ini bercerita betapa pengalaman jadi guru di Papua adalah sebuah pengalaman yang indah dan tak terlupakan. Dan betapa dia lalu menyadari, betapa pendidikan begitu 'mahal' untuk sebagian anak-anak Indonesia.
Mungkin karena gue adalah seseorang yang menyandang gelar S.Pd di belakang nama, atau karena gue terlahir dari keluarga pendidik (ibu gue guru, bokap juga guru, bokap satu lagi juga guru, nyokap satu lagi juga katanya guru *hahaha), atau karena dulu gue pernah volunteer ngajar di panti asuhan pas jaman kuliah, gue jadi kepikiran.
Enggak, gue ngga pengen alih profesi. Gue nggak pengen jadi guru di sekolahan, mengajar di depan kelas penuh dengan anak-anak berbuku bagus dan sepatu bagus, nerima gaji bulanan, dan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Gue pengen melakukan lagi apa yang pernah gue lakukan empat tahun lalu. Bertemu dengan anak-anak yang serba kekurangan. Yang memiliki kehidupan lebih kompleks dari sekadar belajar-dan-bermain. Yang selalu menyambut kedatangan gue dengan senyum terkembang atau cemberut kalo minggu lalu gue terpaksa absen. Yang masih ingin belajar tapi dipaksa berhenti oleh keadaan...
Di Salatiga yang notabene kota kecil dengan anak jalanan yang nggak seberapa banyak, gue merasa beruntung bisa mendidik yang sedikit itu. Lantas, seharusnya ngga ada alasan kenapa gue ngga melakukan hal yang sama di Jakarta, kota dengan ratusan anak-anak marjinal.
Nah, mulailah gue nge-browse di internet, cari tau apa ada organisasi yang nerima relawan karbitan kaya gue ini. Tapi niat gue ternyata sangat bersyarat. Antara lain kaya gini nih:
1. Waktu ngajar harus pas weeked, biar ngga ganggu kerjaan primer sebagai kuli tinta (kayanya syarat yang ini mah mutlak)
2. Dari hari Sabtu dan Minggu yang tersisa, harus pilih satu aja, biar masih ada waktu buat di rumah, ketemu suami.
3. Tempat ngajar harus ada dalam radius 30 menit perjalanan dari rumah (kalo ini sih biar gampang aja).
4. Tidak mau terikat sama kegiatan tetek bengek seperti pertemuan rutin bla bla bla, gue cuma pengen ngajar!
Ehm....
Ya begitulah, mau berbuat baik aja kok ya harus pake syarat. Padahal kata Bimbo mah, berbuat baik janganlah ditunda-tunda....*sigh*
Cheers,
-ajeng-
Mungkin karena gue adalah seseorang yang menyandang gelar S.Pd di belakang nama, atau karena gue terlahir dari keluarga pendidik (ibu gue guru, bokap juga guru, bokap satu lagi juga guru, nyokap satu lagi juga katanya guru *hahaha), atau karena dulu gue pernah volunteer ngajar di panti asuhan pas jaman kuliah, gue jadi kepikiran.
Enggak, gue ngga pengen alih profesi. Gue nggak pengen jadi guru di sekolahan, mengajar di depan kelas penuh dengan anak-anak berbuku bagus dan sepatu bagus, nerima gaji bulanan, dan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Gue pengen melakukan lagi apa yang pernah gue lakukan empat tahun lalu. Bertemu dengan anak-anak yang serba kekurangan. Yang memiliki kehidupan lebih kompleks dari sekadar belajar-dan-bermain. Yang selalu menyambut kedatangan gue dengan senyum terkembang atau cemberut kalo minggu lalu gue terpaksa absen. Yang masih ingin belajar tapi dipaksa berhenti oleh keadaan...
Di Salatiga yang notabene kota kecil dengan anak jalanan yang nggak seberapa banyak, gue merasa beruntung bisa mendidik yang sedikit itu. Lantas, seharusnya ngga ada alasan kenapa gue ngga melakukan hal yang sama di Jakarta, kota dengan ratusan anak-anak marjinal.
Nah, mulailah gue nge-browse di internet, cari tau apa ada organisasi yang nerima relawan karbitan kaya gue ini. Tapi niat gue ternyata sangat bersyarat. Antara lain kaya gini nih:
1. Waktu ngajar harus pas weeked, biar ngga ganggu kerjaan primer sebagai kuli tinta (kayanya syarat yang ini mah mutlak)
2. Dari hari Sabtu dan Minggu yang tersisa, harus pilih satu aja, biar masih ada waktu buat di rumah, ketemu suami.
3. Tempat ngajar harus ada dalam radius 30 menit perjalanan dari rumah (kalo ini sih biar gampang aja).
4. Tidak mau terikat sama kegiatan tetek bengek seperti pertemuan rutin bla bla bla, gue cuma pengen ngajar!
Ehm....
Ya begitulah, mau berbuat baik aja kok ya harus pake syarat. Padahal kata Bimbo mah, berbuat baik janganlah ditunda-tunda....*sigh*
Cheers,
-ajeng-
22.5.09
dirty [not too] sexy money
Untuk seseorang yang sudah terlalu jauh menggauli mode kehidupan konsumerisme, menabung itu susaaaaaahhhh...!! And i'm not talking about saving money for yourself. Yep. I'm talking about family financial. Now that I'm no longer single, this one thing apparently becomes slightly complicated. *sigh*
Setelah menyempatkan diri mengobrol dengan beberapa teman, ternyata mengurus keuangan keluarga kurang lebih sama dengan membuat kopi: everybody has their own formula of doing. But, lots of them share one funny fact, joint-account. Satu rekening yang di'gemuk'kan oleh kedua belah pihak.
It really got me into thinking: when it comes to family financial planning, on what point does a joint-account become neccesary?
Well, menurut mereka yang pro, tabungan bersama bisa jadi penyeimbang. Biar ada sense of responsibility yang sama. Toh, pada akhirnya duit bersama itu bakal dibeliin barang buat keperluan bareng. Atau buat liburan bersama. Tapi kok gue ngga sreg ya? hmm...
Mungkin karena gue ini penganut paham: duit gue-duit gue, duit lo-duit lo. *tapi kalo gue butuh duit, gue minta lo ya* uhuehuehueheuheu
atau mungkin juga karena gue sebenarnya masih terlalu egois untuk membagi-bagi duit hasil kerja gue sama orang lain, hihihihi... what a bitch...
Cheers,
-ajeng-
Setelah menyempatkan diri mengobrol dengan beberapa teman, ternyata mengurus keuangan keluarga kurang lebih sama dengan membuat kopi: everybody has their own formula of doing. But, lots of them share one funny fact, joint-account. Satu rekening yang di'gemuk'kan oleh kedua belah pihak.
It really got me into thinking: when it comes to family financial planning, on what point does a joint-account become neccesary?
Well, menurut mereka yang pro, tabungan bersama bisa jadi penyeimbang. Biar ada sense of responsibility yang sama. Toh, pada akhirnya duit bersama itu bakal dibeliin barang buat keperluan bareng. Atau buat liburan bersama. Tapi kok gue ngga sreg ya? hmm...
Mungkin karena gue ini penganut paham: duit gue-duit gue, duit lo-duit lo. *tapi kalo gue butuh duit, gue minta lo ya* uhuehuehueheuheu
atau mungkin juga karena gue sebenarnya masih terlalu egois untuk membagi-bagi duit hasil kerja gue sama orang lain, hihihihi... what a bitch...
Cheers,
-ajeng-
20.5.09
we were once in love...
we were once in love, my dear
where did it go?
i feel as if it swept away by numorous ridiculous things we've said and done to each other
and it got me thinking, maybe it wasn't love we fight for
somehow, in this bizzare house, we are our own enemy
and it is hopeless to win you all over again
so, go tell the world that you hate me
i will watch you in silence
Cheers,
-ajeng-
where did it go?
i feel as if it swept away by numorous ridiculous things we've said and done to each other
and it got me thinking, maybe it wasn't love we fight for
somehow, in this bizzare house, we are our own enemy
and it is hopeless to win you all over again
so, go tell the world that you hate me
i will watch you in silence
Cheers,
-ajeng-
Subscribe to:
Posts (Atom)