Transportasi memang selalu jadi bahasan menarik di Ibukota. Mulai dari macet jalanannya, bobrok bis-bisnya, copet di dalamnya, dan penjual kaki limanya.
Sejak berkenalan dengan busway, gue emang ngga sesering dulu naik bis kota. Jaman masih idup di Mampang, perjalanan ke kantor emang selalu dengan bis bernomor 46. Bisnya guedeee, rongsokan dari bis Jepang, kayanya. Mesinnya butut, jendelanya lebar-lebaaar, mayan kalo mau ngadem. Cuma, ya itu, penuhnya na'ujubile deh! Apalagi kalo jam-jam sibuk, kaya jam berangkat ato pulang kantor.
Nah, beberapa hari yang lalu, gue berkesempatan naik bis ini pas jam yg belum sibuk, jam 4-an gitu lah. Jadilah bis itu ngga terlalu sesak dengan banyaknya orang yang berdiri *plus ngga terlalu bau ketek dari mereka yang pegangan diatas, huehee..*
Gue kan orangnya emang suka merhatiin hal-hal yang ngga penting gitu ya, ciiin... Ternyata lumayan banyak pemandangan lucu yang gue temuin di bus itu. Nah, yang mo gue ceritain sekarang adalah para penjaja-penjaja yang mobile, bapak-bapak judes di depan tempat gue duduk, dan temen gue Yetta. Hihi
Baru aja gue duduk, tiba-tiba pangkuan gue udah dijatohin buku mewarnai buat anak-anak. Ada lima macam, boy. Gambar-gambar tumbuhan, binatang, alam, huruf dan angka, semuanya hanya berupa outline aja. Siap diwarnai oleh tangan-tangan mungil putra-putri ibu bapak di rumah...
Gue, gak tertarik. Bapak-Bapak Judes (BBJ), mengibaskan tangan. Yetta, gak tertarik.
Abis si penjual ngider dan keluar dari bis, dateng lagi penjual yang lain. Kali ini yang dijual adalah buku pintar kaya RPUL *kalo jaman gue SD dulu*. Ngoceh-ngoceh bentar, langsung deh itu buku mendarat lagi di pangkuan.
Gue, gak tertarik juga. BBJ, mengibaskan tangan dengan judes. Yetta, membuka dan membaca-baca buku itu dengan malas. Alhasil kita bertiga ngga beli, dong...
Abis si penjual RPUL, datanglah pengamen. Gue lupa lagunya apaan.
Gue, ngerogoh gopek'an. BBJ, masih mengibaskan tangan sambil menambah efek dramatis buang muka. Yetta, cuek.
Eh, belom brenti juga kesibukan di bis ini. Padahal gue cuma naik dari Slipi ke Tebet, lho. Ada penjual alat pijit yang ciamik! Terbuat dari kayu, bisa buat kerok, buat urut, buat pijit, segala macem deh! Bentuknya kaya bintang ninja gitu. Harganya lima ribu. Dibandingkan dengan kegunaannya yang sangat bervariasi, ini udah dibanting banget! haha
Gue, ya gak tertariklah! BBJ, langsung beli! gue ampe kaget. Yetta, kayanya lagi ngelamun deh.
Teruuuuus, masih ada lagi. Tukang jualan pulpen. Merknya Eazy-Rite MILENO. KEnapa gue bisa apal gitu? Karena gue beli, hahahaha... Ada tiga biji, warna ijo, ungu sama oranye. Harganya murah meriah, hanya dua ribu saja. Gue beli dooong!!
Gue, ya lo tau deh. BBJ, sepertinya sudah tidak perduli keadaan sekitar. Yetta, ngeledekin gue karena gue beli pulpen-pulpen itu, huhu.
Ini gue udah mau turun di Tebet, eh masih naik lagi pengamen bapak-bapak yang bawa suling sunda. Buseeet..!
Gila kan, bus di Jakarta ini?? Bener-bener one-stop shopping and entertainment!
Cheers,
-ajeng-
17.7.09
2.7.09
it's a slap.... or a downfall
When someone who barely know you descibes your mistakes in detils, you could consider it as two things, a slap in your face or a downfall. A slap, as in a reminder that you have to introspect, that maybe somehow you are not doing a great job after all. Or a downfall, as in you will be fired in three months.
In all my entire life, I have never been fired before. When I have to end a working period, it's me quitting. Not fired. Well, most people said there will always be a first time. I never thought mine will be this close.
Status quo, gue belom dipecat sih. Tapi keputusan untuk memberi waktu tiga bulan lagi sebelum re-evaluating memang membuat gue sedikit syok. Terlebih lagi, kecepatan penyebaran gosip di kantor ini yang lebih cepat daripada penyebaran flu babi di Australia memang sedikit menyebalkan. Right now, when I see people, all I can think of is, "They knew it before I did," and "They all feel so sorry for me," and "What the F, lets throw a pity-party for me,"... snap!
Yang gue rasakan sekarang, gue sedang menimbang-nimbang kemungkinan. Kemungkinan kalau gue bisa bertahan disini, atau kemungkinan gue mencari pekerjaan lagi. Kemungkinan gue menjadi salah satu dari ribuan orang yang berjibaku berebut lahan penghasilan di negeri ini *hayahhh*, and I feel like I don't have enough amo for that right now. Tapi kalo dipikir lagi, emang ada orang yang siap jadi pengangguran? hmmm..
Things are getting out of hands for me right now. People are telling me, "Don't stress out!" tapi malah bikin gue jadi makin kacau. "Jangan dipikirin," malah bikin gue makin ngga bisa tidur. "Kerja aja sebaik-baiknya tiga bulan ini," malah bikin gue jadi nggak fokus. I'm losing grip here.
Terus gue mulai membuka-buka lagi semua account di website nyari-nyari kerja. Jobstreet, jobsdb, you name it. Meng-update resume online, ngedit CV yang udah setahun disimpen aja di flashdisc. Man, I just realize that it was so exhousted! Physically and mentally. *Especially if you do it during deadline, hahaa*
Tiba-tiba, ditengah semua kegiatan menyebalkan itu, gue pengen ketawa keras-keras. Ada perasaan geli kaya dikitik-kitik yang gue sendiri ngga tau apa penyebabnya. It's funny because it's weird!
Life has an awkward sense of humour. It's like when you really really wanna cry, but you laugh instead, just to show poeple that you're strong. Funny.
Cheers,
-ajeng-
In all my entire life, I have never been fired before. When I have to end a working period, it's me quitting. Not fired. Well, most people said there will always be a first time. I never thought mine will be this close.
Status quo, gue belom dipecat sih. Tapi keputusan untuk memberi waktu tiga bulan lagi sebelum re-evaluating memang membuat gue sedikit syok. Terlebih lagi, kecepatan penyebaran gosip di kantor ini yang lebih cepat daripada penyebaran flu babi di Australia memang sedikit menyebalkan. Right now, when I see people, all I can think of is, "They knew it before I did," and "They all feel so sorry for me," and "What the F, lets throw a pity-party for me,"... snap!
Yang gue rasakan sekarang, gue sedang menimbang-nimbang kemungkinan. Kemungkinan kalau gue bisa bertahan disini, atau kemungkinan gue mencari pekerjaan lagi. Kemungkinan gue menjadi salah satu dari ribuan orang yang berjibaku berebut lahan penghasilan di negeri ini *hayahhh*, and I feel like I don't have enough amo for that right now. Tapi kalo dipikir lagi, emang ada orang yang siap jadi pengangguran? hmmm..
Things are getting out of hands for me right now. People are telling me, "Don't stress out!" tapi malah bikin gue jadi makin kacau. "Jangan dipikirin," malah bikin gue makin ngga bisa tidur. "Kerja aja sebaik-baiknya tiga bulan ini," malah bikin gue jadi nggak fokus. I'm losing grip here.
Terus gue mulai membuka-buka lagi semua account di website nyari-nyari kerja. Jobstreet, jobsdb, you name it. Meng-update resume online, ngedit CV yang udah setahun disimpen aja di flashdisc. Man, I just realize that it was so exhousted! Physically and mentally. *Especially if you do it during deadline, hahaa*
Tiba-tiba, ditengah semua kegiatan menyebalkan itu, gue pengen ketawa keras-keras. Ada perasaan geli kaya dikitik-kitik yang gue sendiri ngga tau apa penyebabnya. It's funny because it's weird!
Life has an awkward sense of humour. It's like when you really really wanna cry, but you laugh instead, just to show poeple that you're strong. Funny.
Cheers,
-ajeng-
Subscribe to:
Posts (Atom)