Kemarin baru nonton SCTV, ada yang diundang, keluarga korban kecelakaan pesawat Hercules-Magetan. Ibu itu kehilangan putrinya. Anak itu, seorang gadis yang menjadi sukarelawan pengajar di pedalaman Papua. Dari jurnal yang belakangan ditemukan si ibu, anak ini bercerita betapa pengalaman jadi guru di Papua adalah sebuah pengalaman yang indah dan tak terlupakan. Dan betapa dia lalu menyadari, betapa pendidikan begitu 'mahal' untuk sebagian anak-anak Indonesia.
Mungkin karena gue adalah seseorang yang menyandang gelar S.Pd di belakang nama, atau karena gue terlahir dari keluarga pendidik (ibu gue guru, bokap juga guru, bokap satu lagi juga guru, nyokap satu lagi juga katanya guru *hahaha), atau karena dulu gue pernah volunteer ngajar di panti asuhan pas jaman kuliah, gue jadi kepikiran.
Enggak, gue ngga pengen alih profesi. Gue nggak pengen jadi guru di sekolahan, mengajar di depan kelas penuh dengan anak-anak berbuku bagus dan sepatu bagus, nerima gaji bulanan, dan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Gue pengen melakukan lagi apa yang pernah gue lakukan empat tahun lalu. Bertemu dengan anak-anak yang serba kekurangan. Yang memiliki kehidupan lebih kompleks dari sekadar belajar-dan-bermain. Yang selalu menyambut kedatangan gue dengan senyum terkembang atau cemberut kalo minggu lalu gue terpaksa absen. Yang masih ingin belajar tapi dipaksa berhenti oleh keadaan...
Di Salatiga yang notabene kota kecil dengan anak jalanan yang nggak seberapa banyak, gue merasa beruntung bisa mendidik yang sedikit itu. Lantas, seharusnya ngga ada alasan kenapa gue ngga melakukan hal yang sama di Jakarta, kota dengan ratusan anak-anak marjinal.
Nah, mulailah gue nge-browse di internet, cari tau apa ada organisasi yang nerima relawan karbitan kaya gue ini. Tapi niat gue ternyata sangat bersyarat. Antara lain kaya gini nih:
1. Waktu ngajar harus pas weeked, biar ngga ganggu kerjaan primer sebagai kuli tinta (kayanya syarat yang ini mah mutlak)
2. Dari hari Sabtu dan Minggu yang tersisa, harus pilih satu aja, biar masih ada waktu buat di rumah, ketemu suami.
3. Tempat ngajar harus ada dalam radius 30 menit perjalanan dari rumah (kalo ini sih biar gampang aja).
4. Tidak mau terikat sama kegiatan tetek bengek seperti pertemuan rutin bla bla bla, gue cuma pengen ngajar!
Ehm....
Ya begitulah, mau berbuat baik aja kok ya harus pake syarat. Padahal kata Bimbo mah, berbuat baik janganlah ditunda-tunda....*sigh*
Cheers,
-ajeng-
28.5.09
22.5.09
dirty [not too] sexy money
Untuk seseorang yang sudah terlalu jauh menggauli mode kehidupan konsumerisme, menabung itu susaaaaaahhhh...!! And i'm not talking about saving money for yourself. Yep. I'm talking about family financial. Now that I'm no longer single, this one thing apparently becomes slightly complicated. *sigh*
Setelah menyempatkan diri mengobrol dengan beberapa teman, ternyata mengurus keuangan keluarga kurang lebih sama dengan membuat kopi: everybody has their own formula of doing. But, lots of them share one funny fact, joint-account. Satu rekening yang di'gemuk'kan oleh kedua belah pihak.
It really got me into thinking: when it comes to family financial planning, on what point does a joint-account become neccesary?
Well, menurut mereka yang pro, tabungan bersama bisa jadi penyeimbang. Biar ada sense of responsibility yang sama. Toh, pada akhirnya duit bersama itu bakal dibeliin barang buat keperluan bareng. Atau buat liburan bersama. Tapi kok gue ngga sreg ya? hmm...
Mungkin karena gue ini penganut paham: duit gue-duit gue, duit lo-duit lo. *tapi kalo gue butuh duit, gue minta lo ya* uhuehuehueheuheu
atau mungkin juga karena gue sebenarnya masih terlalu egois untuk membagi-bagi duit hasil kerja gue sama orang lain, hihihihi... what a bitch...
Cheers,
-ajeng-
Setelah menyempatkan diri mengobrol dengan beberapa teman, ternyata mengurus keuangan keluarga kurang lebih sama dengan membuat kopi: everybody has their own formula of doing. But, lots of them share one funny fact, joint-account. Satu rekening yang di'gemuk'kan oleh kedua belah pihak.
It really got me into thinking: when it comes to family financial planning, on what point does a joint-account become neccesary?
Well, menurut mereka yang pro, tabungan bersama bisa jadi penyeimbang. Biar ada sense of responsibility yang sama. Toh, pada akhirnya duit bersama itu bakal dibeliin barang buat keperluan bareng. Atau buat liburan bersama. Tapi kok gue ngga sreg ya? hmm...
Mungkin karena gue ini penganut paham: duit gue-duit gue, duit lo-duit lo. *tapi kalo gue butuh duit, gue minta lo ya* uhuehuehueheuheu
atau mungkin juga karena gue sebenarnya masih terlalu egois untuk membagi-bagi duit hasil kerja gue sama orang lain, hihihihi... what a bitch...
Cheers,
-ajeng-
20.5.09
we were once in love...
we were once in love, my dear
where did it go?
i feel as if it swept away by numorous ridiculous things we've said and done to each other
and it got me thinking, maybe it wasn't love we fight for
somehow, in this bizzare house, we are our own enemy
and it is hopeless to win you all over again
so, go tell the world that you hate me
i will watch you in silence
Cheers,
-ajeng-
where did it go?
i feel as if it swept away by numorous ridiculous things we've said and done to each other
and it got me thinking, maybe it wasn't love we fight for
somehow, in this bizzare house, we are our own enemy
and it is hopeless to win you all over again
so, go tell the world that you hate me
i will watch you in silence
Cheers,
-ajeng-
Subscribe to:
Posts (Atom)