26.3.09

Mengisi Kuis!!!

Phlegmatik (Phlegmatic) - Cairan phlegma - Lambat - “Cinta Damai”

Kelompok ini tak suka terjadi konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan, sekalipun ia sendiri tidak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya tidak terus berkepanjangan.

Kaum phlegmatis kurang bersemangat, kurang teratur dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan kalau memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau jadi pendengar yang baik, tapi kalau disuruh untuk mengambil keputusan ia akan terus menunda-nunda. Kalau anda lihat tiba-tiba ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara terus, maka pastilah para pendengar yang berkerumun itu orang-orang phlegmatis. Sedang yang bicara tentu saja sang Sanguinis.

Kadang sedikit serba salah berurusan dengan para phlegmatis ini. Phlegmatis memiliki sifat alamiah pendamai. Ia biasanya menghidari kekerasan. Karena itu jugalah ia adalah orang yang mudah diajak bergaul, ramah, dan menyenangkan. Ia adalah tipe orang yang bisa membuat sekelompok orang tertawa terbahak-bahak oleh humor-humor keringnya, tetapi ia sendiri tidak tertawa.

Ia adalah pribadi yang konsisten, tenang, dan jarang sekali terpengaruh dengan lingkungannya. Inilah yang membuatnya hampir-hampir tidak pernah terlihat gelisah. Di balik pribadinya yang dingin dan malu-malu, sesungguhnya ia memiliki kemampuan untuk dapat lebih merasakan emosi yang terkandung pada sesuatu. Karena sifatnya yang menyukai kedamaian dan tidak menyukai pertikaian, ia cenderung menarik diri dari segala macam keterlibatan. Hal inilah yang sering kali menghambatnya untuk menunjukkan kemampuannya secara total. Sering kali mereka hanya menggunakan 30%-50% dari kemampuan mereka.

(by Joseph http://cybersurferzone.blogspot.com)



hahaha *lol* it's sooooo me!!

Cheers,
-ajeng-

20.3.09

about getting married.....

Yes, it's true.... huehuehueheu....

Jadi pernikahan gue tinggal menghitung hari nih. Eh, baru beberapa saat terakhir *kok kaya judul lagu ya?? hm..* ini gue mau ber-go public soal kawinan ini. Beberapa alasannya sebenarnya sangat sederhana, karena gue belom bilang ke temen-temen kantor gue gue mo nikah. Dan karena gue masih anak baru banget di kantor ini *baruuuuu banget, piyik deh* kayanya ga etis aja kalo secara resmi gue belom ngomong tapi udah merajalela di postingan-postingan blog dan facebook.

Alasan lainnya adalah: gue sama sekali ngga berasa ada yang beda antara gue yang sebulan lagi mo nikah sama gue yang setahun lalu masih cengengesan, uheuheuehue... In a sense of adrenaline rush, gue merasa sangat santai. Of course there are times when I have to deal with some stuff, untungnya nyokap di Salatiga ngurus hampir semua persiapan disana. Like always, everything she touches must end in perfection. So, I've got nothing to worry about, huahaha...

Some drama came from people around me, though. Kakak gue mengaku sedikit terharu biru pas bikinin design buat undangan gue. Dan kemarin pas gue kasih liat si Dhimas itu undangan, dia terdiam selama sepuluh detik *yes, he was* lalu kalimat pertama yang dia ucapkan adalah:
"Ya Alloh, lo kawin beneran ya..." followed by a long silence.... *lol*
Ah, tapi gue juga masih suka terkagum-kagum dengan fakta bahwa gue telah memutuskan untuk menikah, hihi...

So, here I am... after spending some time to browse wedding invitation, akhirnya gue menyerahkan sepenuhnya urusan design ini kepada Cumi, kakak gue tadi.

Hasilnya adalah seperti ini:



this is the front-back cover followed by the inside page
Photographed by Budi aka Bodoy. Designed by Cumi. Printed by Mr. I-don't-know-you-but-you-know-I-love-you

Tadaaaaaa..... I looooove my wedding invitation :)

Yah, sekiranya sampai disini dulu, still have tons to do. Antara lain, me-list siapa-siapa saja yang harus dikirimi undangan ini, which is a little difficult after I lost my cellphone a couple days ago ^^"

Tapi caiyo wae lah... tetap semangat!!
Minggu ini deadline untuk mencari cincin kawin. Gue mo muter-muter ditemani Dhimas, my lovely imaginary husband to be.... :)


Cheers,
-ajeng-

13.3.09

acuhkan saja

Ada yang bilang, setiap hubungan punya pasang dan surut. Saat-saat indah dan saat-saat menjengkelkan. Saat-saat kita terlalu mencintai, hingga saat-saat kita kehilangan kepercayaan bahwa di suatu waktu yang lalu kita pernah mencintai.

Untuk setiap kali kepercayaan itu hilang, semoga kau mengerti bahwa sesungguhnya kaki ini tak pernah beranjak jauh darimu. Maka acuhkan saja. Anggap kemarahan ini hanyalah sebuah reaksi spontan dari ledakan emosi yang tak rasional.

Jadi jika aku menengok, kuminta kau pun masih berdiri di situ. Di titik yang sama ketika kita terakhir bertemu....

Nanti, kuikatkan sebuah cincin dari ilalang di kelingkingmu






Cheers,
-ajeng-

3.3.09

success is.....

Sukses, menjadi satu kata yang sulit didefinisikan. Seperti sebuah karya, sukses adalah relatif. Ukurannya bisa jadi tak sama antara satu dengan lain orang. Lazimnya, kesuksesan memang diukur dengan tingginya kekuasaan atau banyaknya uang.

Apapun yang menjadi tolak ukur, kata sukses itu aja sudah menggiurkan. Menerbitkan liur. Memang siapa orang di dunia ini yang tidak mau sukses? Dengan ukuran apapun.

Lalau berbagai seminar digelar, berbagai buku diterbitkan, berbagai jargon diteriakkan. Tujuannya, agar kita percaya bahwa sukses hanya sejengkal jauhnya dari genggaman tangan.

Konon, ketika berperang, Napoleon Bonaparte membekali setiap orang dalam pasukannya dengan sebuah tongkat. Sebuah tongkat yang sama persis seperti miliknya. Tongkat itu harus dimasukkan ke dalam tas perang mereka, dan sebelum berangkat semua prajurit harus membiasakan diri dengan sebuah ritual. Mereka diharuskan memegang tongkat itu dan meyakinkan diri dalam hati, bahwa mereka adalah Napoleon. Semua prajurit, tanpa kecuali, harus meyakini bahwa suatu hari nanti mereka juga akan berada di puncak pimpinan sebagai jenderal besar, layaknya Napoleon. Macam self-hypnotize gitu.

Tapi dimana-mana, tampuk pimpinan hanya satu. Dimana-mana orang-orang yang luar biasa jumlahnya lebih mengerucut daripada orang-orang biasa. Mengapa mereka disebut 'orang kebanyakan', ya karena memang orang-orang yang biasa jumlahnya banyaaakkk.

Lalu, apa arti sukses bagi orang kebanyakan? Benarkah sukses sekalipun berada sejengkal lebih dekat dengan orang kebanyakan?

Dari semua prajurit yang membelai tongkat Napoleon mereka, hanya sedikit yang akhirnya memang menjadi Napoleon-Napoleon baru. Sisanya, tetap menjadi prajurit. Dari ribuan karyawan yang datang di seminar tentang cara-cara meraih 'sukses', hitung sendiri berapa orang yang akhirnya benar-benar berhasil.... menjadi satu tingkat diatas orang-orang kebanyakan?



Cheers,
-ajeng-

ditulis setelah mengikuti seminar 'GO EXCELLENT 2009'