20.2.09

Persahabatan Kepompong

Saat gue TK
Namanya Meta. Rumahnya di depan rumah gue. Nenek dia itu, si mbok yang tiap hari ngejagain gue juga, karena nyokap pergi kerja. Jadi tiap hari kita barengan, makan barengan. Main ke pasar juga bareng... Nyanyiin lagu-lagunya Anggun C Sasmi yang Tua-Tua Keladi bareng *walopun dia lebih suka Nike Ardila, sih* huehehehe....
Kepisah karena gue pindah ke rumah nenek pas kelas dua SD.

Saat gue SD
Namanya Dina. Rambutnya keriting megar, ahahaha... Mulai genit sama kakak kelas, kita biasa flirting2 bareng sesaat sebelum berbaris di depan pintu kelas, hueheuheu... ngaco deh.
Dina, sepertinya memang dewasa sebelum waktunya. Dari dia, gue pertama kali mengenal Freddy S.... Huakakaka, kacooo...

Saat gue SMP
Weiss... udah mulai genk-genkan niy. Pas kelas satu, gue deket sama Astri, Nana, dan *anjis, satu lagi gue lupa namanya*. Gitu naik ke kelas tiga, kita mulai beda visi *hahaha* Gue lalu berteman sama Tutik dan Suci.

Saat gue SMA
Namanya Sindu, Dyah sama Apri. Karena dua tahun kelasnya samaan, pokoknya gue selalu bareng mereka deh. Geng alim. Ngga pernah berbuat nista dan terlibat aksi vandalisme. Haha
Begitu kelas tiga, ganti personality. Di kelas bahasa, kita berlimaan, gue, Susi, Hesti, Lang, sama Ony. Dan cowo-cowo lebay macam Ruben dan Pi'i, ohohoho

Mulai Kuliah
Masa-masa on-off gue, karena kebanyakan pacaran dan suka sibuk sendiri sama pacar, ck ck ck... Tapi gue seneng banget karena ketemu Anggi. We sure had our great times together.. :)Mulai nyoba-nyoba benda-benda haram...huakakaka... Terus ketemu temen-temen di radio Zenith gue tercinta. Awang, sakti, abe, owoy... intan, frida, moudy... mas Rizal!!

Jakartaaaa.....di trans 7
Masih sangat berteman baik sama Anggi, Nana, Ayiek... bertemu orang-orang menarik bersama mereka.
Di tempat kerja, tiba-tiba ketemu makhluk-makhluk menarik nan ajaib. Yetta, Kiki, Dhimas, Ira, Adit, Kepriwe1, Kepriwe2, Uda... whom I will be married to :p

Di Nova
Gue pikir ngga akan ketemu temen-temen seasyik temen-temen gue yang lalu. Ternyata gue ketemu Yetta *lagi*, Cito, Ester, Wisnu... Ngga kalah gila Iqem, Edwin, Romy... semuanya!!

gue inget waktu acara farewell gue dan anggi ninggalin salatiga. salah seorang temen kita, mabok beraaaat, sambil ketawa-ketiwi ngga jelas ngelihat kita berdua yang sesenggukan bilang gini:

"Dimanapun lo nanti, lo HARUS percaya kalo di tempat itu lo bakal nemuin sahabat-sahabat baru. Orang-orang yang tulus sayang sama lo. Mungkin orangnya akan beda-beda, tapi lo harus percaya. Hal seindah persahabatan engga diciptain cuma satu kali sama Tuhan..."

Malam ini, gue mengingat semua nama sahabat-sahabat gue *kecuali satu yang di SMP tadi kayanya, hihi*... Malam ini gue mengingat mereka dengan penuh rasa syukur. Mereka memberi warna di hidup gue....


Cheers,
-ajeng-

Terintimidasi

Akhir-akhir ini gue baru menyadari kalau kita sudah terperangkap dan terpengaruhi oleh mata dunia yang sangat mengintimidasi.

in.ti.mi.da.si n tindakan menakut-nakuti (terutama untuk memaksa orang atau pihak lain berbuat sesuatu); gertakan; ancaman;

Atau mungkin hari ini orang memang lebih mudah ditakut-takuti secara mental, alih-alih fisik.

Di jalanan Jakarta yang padat, gue termasuk pengendara motor yang 'malas'. Malas mencari celah-celah sempit untuk dimasuki. Kalau jalanan Gatot Subroto yang penuh lubang itu mulai padat pada jam tujuh malam, gue lebih memilih ngejongkrok aja dibelakang salah satu mobil yang terhenti. Sementara motor lain dengan giat menaiki trotoar, melindas genangan comberan, meliuk gesit diantara dua sedan.

Dua hari yang lalu, gue lagi asyik melamun ditengah kemacetan, diatas motor. Memandangi gedung Jakarta dari sela-sela ranting pohon yang masih basah karena hujan. Tiba-tiba gue tergangu sama motor di depan gue yang mulai belingsatan. Dia kejebak di sela-sela mobil dan gue dibelakangnya. Kayanya ngga sabar banget pengen keluar, padahal jalanan asli padat abiiisss... Terus gue melirik ke pinggiran jalan. Berderet motor emang lagi jalan diatas trotoar, semua ingin jadi yang terdepan.

Kayanya si motor depan gue itu sangat terintimidasi sama mereka....

Gue juga pernah merasa terintimidasi sama seorang cewe. Teman yang gue kenal di tempat kerja gue yang lama. Dia cantik, pinter ngomong, anggun, dan menyenangkan. Kadang gue ngerasa nggak bener nih... kaya gue pengen memeluk dia sekaligus mencekiknya dalam waktu bersamaan. Gue pernah merasa iri. Pernah juga merasa cemburu. Dan kalau gue pikir-pikir, perasaan yang gue rasain ke cewe itu sama sekali bukan kedua-duanya. Aneh.

Mungkin gue merasa terintimidasi sama dia. Nggak tau karena apa. Apa mungkin gue merasa terancam? Terancam apa? Ih beneran deh, nggak ngerti. Dan gue suka sama dia, sebenernya. Bukan tipe yang bakal gue lihat dengan mengernyit.

Setelah banyak waktu yang dengan tidak berguna gue habiskan untuk menganalisa perasaan gue, gue berkesimpulan, perasaan ini sama ketika gue ada di kelas 1 SD. Gue punya temen namanya Ika. Selama dua caturwulan berturut-turut gue selalu juara 1, sampai caturwulan ketiga, dia tiba-tiba menggantikan posisi gue. Gue lengser keprabon.... Dan gue ngga benci dia. Gue hanya jadi terintimidasi. Terintimidasi.

Perasaan yang seharusnya tidak membuat hati kita terkorosi...

Cheers,
-ajeng-