30.12.08

Why We Should Stop on Planning Everything

Nyokap gue adalah orang yang sangat terencana. Kalau ada satu hari istimewa, dari seminggu sebelumnya pasti dia udah menyusun jadwal sedemikian tepatnya. Kalau kita ada di dalam jarak radius 10 meter dari jangkauannya, setiap setengah jam sekali pasti kita dengar lagi rundown acara yang udah tersusun rapi itu, kadang-kadang malah lengkap sama sample quote dari apa yang bakal dia ucapkan nanti.

Gue ngga tau apakah nyokap gue emang udah kaya gitu dari jaman beliau masih muda, tapi kayanya iya sih.

Bokap gue, on the other hand, adalah sesuatu yang tak pernah dia rencanakan.

And it broke her.


Saat gue masih kecil, gue juga suka merencanakan semuanya. Se-mu-a-nya. Jika besok hari istimewa, malamnya gue ngga akan tidur, dengan deg-degan merencanakan setiap menit dari hari istimewa gue. Seringnya dengan tersenyum. Karena dalam rencana, semua selalu berjalan sempurna...

Lalu hidup jadi semakin kejam. Mungkin karena semakin tua, semakin lama kita ada di dunia, dunia menjadi semakin bosan. Seperti balita manja yang sudah bosan pada mainan lamanya, dunia acapkali mencampakkan kita, lalu memungut, hanya untuk mencampakkannya sekali lagi. Dan rencana-rencana mulai berguguran seperti daun-daun pohon jati di kebun belakang. Kering, rapuh, hitam.

When all the plans fall apart, we start to seek for alternatives.


Untuk nyokap gue adalah, lari. Kembali ke rumah orangtuanya, meski dengan ego yang terluka. Dan tekanan darah yang meningkat tinggi.

Sementara untuk gue adalah, berhenti. Berhenti dari kekacauan ini dan memulai menata kepingan rencana-rencana baru. Meski harus sedikit mengotori paru-paru.



Cheers,
-ajeng-

26.12.08

This Holiday Sucks....

For me, personally... tanpa bermaksud curhat, karena gue melewatkannya dengan kesendirian dan kesepian yang menyayat *halah*

Being alone is one thing, but being desperately poor, is definitely another thing... Harusnya gue bisa jalan-jalan ke mall-mall jakarta yang ditinggalkan sebagian penduduknya bermigrasi, but nooooo... gue harus menahan hasrat belanja, for I have rarely anything to spend! Menjemukan...

So I started thinking, maybe I can take something out of it... *temen-temen gue pada pulang kampung, cowok gue masih sibuk bekerja* spend some quality time with myself, only cheaper than usual...

Dari semua yang bisa gue lakukan tanpa uang, I came up with: baca-baca buku *yang baru gue beli dengan uang terakhir gue*, mengingat sedikit cara-cara bermeditasi *hell yea...*, dan mengurangi hasrat ngemil.

So basically, that's what I've been doing, and continue doing, sampe liburan jelek ini berakhir :p

Cheers,
-ajeng-

19.12.08

Single and Fabulous

Entah kenapa, sejak SMA gue bukan tipe orang yang bisa jadi single and fabulous. Not proud of it. Untuk satu dari ribuan gadis yang ingin menjadi Carrie Bradshaw, ini adalah fakta yang memalukan!

Rasanya ngga perlu gue jabarkan runtutan pria-pria mana aja yang silih berganti menjadi pasangan gue *as if itu penting, gituh..hehe*, tapi yang seingat gue, kalaupun akhirnya gue jomblo, pasti nggak akan lebih dari hitungan minggu.

Pada banyak kasus, gue mempersiapkan diri dulu (baca: mempersiapkan laki-laki lain) sebelum akhirnya putus dari pacar utama... Gue nggak mau sendiri. I felt insecure. Gue butuh seseorang untuk mengangumi gue, untuk mengatakan bahwa gue hebat, untuk memuja gue, dan untuk mengabdi gue. Sebagian mungkin karena gue nggak sanggup mengatakan hal-hal itu pada diri gue sendiri. Anjis, parah ya..

Diam-diam gue memandang tinggi seorang teman yang bisa berlama-lama ngga punya pacar. Yang masih bisa happy meskipun nggak berbagi hal-hal khusus dengan makhluk bernama lelaki. Meski gue ngga tau apa yang sebenernya dirasakan teman itu, tapi gue melihat wajah-acuh-nggak-butuh-cowok itu di sorot matanya, dan gue merasa dikhianati - oleh perasaan gue sendiri. Gue nggak bisa jadi dia.

Bagi gue, lo hebat.



Cheers,
-ajeng-

11.12.08

in a moment of solitude

Kesendirian seakan selalu terkonotasi dengan kesepian.

Gue sering melihat orang-orang meremehkan orang-orang yang sendirian, meskipun tak sepenuhnya kesepian. Memandang aneh kepada orang-orang yang makan sendirian, "Ih, tu orang ngga punya temen apa ya?"

Jaman gue kuliah dan masih menganut paham feminisme dan gothic-isme berlebih, gue sering banget kemana-mana sendiri dan merasa sombong. Bahwa 'sendiri' itu eksotis dan misterius, menambah daya tarik gue, hahaha. Ngga tau juga sih pikiran itu darimana.

Semakin gede, ternyata hakikat gue sebagai makhluk sosial mengambil alih. Karena dan untuk sesuatu yang normal, gue mulai menikmati nge-geng dan pergi kemana-mana seperti rombongan bison. Rame dan rusuh.

Lalu gue merindukan sendiri. Merindukan sepi. Merindukan nikmatnya merasakan dunia berpusat kepada diri sendiri, tak perlu berbagi. Walaupun cuma sehari tadi, tapi cukup membuat gue merasa legaaaa... I mean, legaaaaa..... ngga berebut udara sama orang lain. Bukannya gue merasa sumpek bareng temen-temen dan pacar di Jakarta, it's just another kind of delight I haven't felt for quite some time.

ah ya...sedikit oleh-oleh dari 'pertapaan' gue.... I know I'm not a pro photographer or anything, but I really like the pictures I took this afternoon. I think they're great.







*ok, cukup bertapanya...gue mo siap2 jalan, meeting an old friend, ahahahaha*


Cheers,
-ajeng-

3.12.08

Tentang Para Artis dan Wartawan

Gue baru saja menyelesaikan sebuah artikel, profil seorang artis kemarin sore yang baru main dua judul sinetron.

So, the interview was a couple days ago, nun di sebuah tempat yang jauh dari Jakarta... macet lagi. Gue nyampe sekitar magrib gitu di lokasi pertama, eh ngga taunya si JR *artis ini* udah pindah lokasi lain. Jadilah gue dan fotografer gue melingkari lagi jalanan demi nemuin lokasi yang na'ujubile nyelempit banget kaya g-string *idih..perumpamaan yang aneh, haha*.

Bla bla bla...gue berhasil ketemu dia.

Not so surprisingly, a bit expectedly... anak ini ternyata mayan tengil. Pertanyaan gue dijawab dengan gaya orang yang ngga pernah kenalan sama bangku sekolah. Contoh:

Ajeng Manis: Di sinetron pertama lo jadi pemeran utama. Belajar akting dari mana?
RJ: He..heh.. *ketawa a la Beaves and Butthead* Nggak dari mana-mana...

...dan banyak lagi pertanyaan yang dijawabnya sepotong2 doang ama ni anak. Lebih banyak lagi pertanyaan gue yang dijawabnya diawali dulu sama suara ketawa ganggu, "he..heh...he..heh...." itu. Ancur abis deh. Idiiih, gimana gue bisa nulis tentang dia kalo dia jawab soal dirinya sendiri aja ogah-ogahan gitu? Fhhh...

Selama gue jadi wartawan, gue merasakan kalo artis2 yang tuaan *maksudnya, lebih senior kali ya* malah lebih sopan dan cooperatif sama wartawan. Mereka bisa membawa diri dengan baik sama wartawan, respect sama kerjaan kita. Apa sih yang terjadi sama ABG-ABG ini??

Gue lalu berkalkulasi, mungkin nggak ya banyaknya jumlah wartawan infotainment sekarang berbanding lurus dengan semakin kurang ajarnya artis-artis? Mungkin kelakuan dan penampilan kuli tinta yang kerap urakan dan barbarian membuat orang lain jadi memandang rendah posisi ini? Nasiib nasib....

Semakin kita menua, memang semakin suka takjub sama anak muda...ck ck ck...



Cheers,
-ajeng-

persahabatan ini sudah berakhir....

Setelah dituliskan ternyata terdengar terlalu jahat.

Beebrapa hari yang lalu gue menghadiri sebuah farewell party yang manis di kantor. Dengan beberapa mata yang sembab karena menangis sedih, berpisah dengan seorang teman.

Lalu gue mengingat sebuah 'perpisahan' lain, yang melibatkan gue didalamnya. Diakhiri dengan teriakan dan ucapan-ucapan ketus. Setelah dituliskan ternyata terdengar lebih jahat lagi...

Gue merasa, orang selalu berubah. Mungkin teman-teman gue juga telah berubah. Lalu mengapa gue harus merasa marah??


Cheers,
-ajeng-

...dan bukankan rasa bosan dan tidak puas itu yang membuat kita terus maju?

Sampai saat ini, gue masih belum bisa menemukan cara lain untuk mengatasi rasa jenuh selain dengan bekerja. Bahkan ketika rasa bosan itu hinggap dalam kerja. Atau dalam berteman. Atau dalam berkarya. Atau dalam mengekspresikan intelektualitas. Atau dalam menulis. Atau dalam hidup.

Bekerja, bekerja, bekerja.


*menulis blog juga satu cara menumpas kebosanan, hehehe...*


Cheers,
-ajeng-