29.10.08

this feeling is a new sensation...

Jadi gue berada di tempat baru. Memasuki ruang kerja baru, dengan orang-orang baru. Oh, how I hate too much changes at one time...

Sejak dulu, gue mungkin bukan orang yang bisa cepat beradaptasi dengan environment baru. Stangers scared me all the time. Lo ngga tau gimana mereka, belajar mengenali maksud-maksud apa dibalik senyuman bersahabat itu...It's scary.

Untng gue punya cara jitu *alah, apa sih* biar ngga terlalu merasa terasing. Sempatkan diri untuk basa-basi yang biasa biar ngga dituduh autis, trus kembali ke kursi sendiri. Membayangkan pojokan cafe bersofa empuk yang kerap gue datangi sama Anggi selama berjam-jam di masa kuliah. Imagine the smell of the coffee blended, the rain tickles it's roof, the laughters and the gossips for hours...

And it feels like home again


Cheers,
-ajeng-

19.10.08

RACIST

The more we grow older, the more racist we become. Or is it less?

Mungkin karena gue menghabiskan sebagian besar kehidupan gue di Jawa, yang ngga terlalu berjubel dengan orang-orang dari daerah lain. Kalaupun ada temen-temen gue yang berasal dari pulau yang perginya pake nyebrangin laut, merekalah yang bakal nyesuaiin sama custom kita di Jawa.

Di kota yang ramai ini, memberi label kepada seseorang yang punya latar budaya yang beda kayanya udah jadi hal yang biasa. Saking biasanya malah udah ngga berasa kalo perkataan-perkataan tertentu sebenernya sangat rasis, mungkin tadinya sensitif tapi saking terbiasanya ya udah...jadi sekadar jokes aja. Bukan sesuatu yang harus dipikirin.

Don't get me wrong. Gue bukan pembenci orang-orang yang bercanda dengan suku. Gue berteman baik dengan beberapa dari mereka malah. Dan gue udah ngga terkaget-kaget lagi kalo tiba-tiba salah satu temen gue menghujat teman yang lain:

"Dasar Batak....,"
"Ih, apaan sih lo Padang!"
"Lo juga, Jawir (jawa maksudnya)!!"

Dan daftarnya bisa lebih panjang kalo ditambah sama predikat-predikat yang melekat sama suku yang bersangkutan. Dan parahnya *buat gue pribadi*, gue jadi suka menyalahkan suku gue atas sikap-sikap gue yang ngga menguntungkan.

Kaya, "Karena gue orang Jawa kali ya, jadi ya pasrah aja." Duh, cemen banget ngga sih...

Apa gue lagi culture shock kali ya? Berarti lemot banget otak gue kalo emang iya, secara gue udah hampir dua tahun tinggal di Jakarta... Kayanya engga deh.

Mungkin karena sepanjang hari dalam minggu ini, atau sepanjang bulan dalam tahun ini, gue dan temen-temen gue *mungkin juga anda, pembaca setia* adalah orang Jakarta. Bukan orang Jawa, Padang, Sunda, dan Batak.. Tapi kenapa kita ngga bisa jadi "orang" aja? Tanpa embel-embel lain di belakangnya. Cuma "orang"...

A squirrel in the tree is he watching me
Does he give a damn?
Does he care who I am?
I’m just a man, is that all I am
Are my manners misinterpreted words or only human?
I’m human
-Only Human, Jason Mraz-



Cheers,
-ajeng-

14.10.08

Between John Bon Jovi, Ricky Martin and Kotaro Minami

Mengingat lagi masa kecil gue dulu, ternyata gue termasuk 'generasi Y' yang cukup parah terkontaminasi oleh televisi. Dari kotak keci berwarna itu, gue terperangah, terkagum, dan tersihir. Dan gue menemukan cinta....cieeeh... Well, kalo bisa disebut cinta sih... Hanya sebentuk cinta platonik antara seorang bintang dan penggemarnya.

Dan setelah gue inget-inget lagi, bukan cuma cinta pertama yang gue dapet dari televisi, tapi juga yang kedua, dan ketiga. Hehehe, maruk juga...

Eniwei, here are my celebrity crush(es), gue urutin dari yang pertama sampe yang terakhir *idih, penting banget apa ya*

1. John Bon Jovi
Cinta gue kepada pria cadas ini (wih, cadaas...) sebenarnya berawal dari audio, alih-alih visual. Jaman gue TK, bokap gue demen banget muter lagu-lagu Bon Jovi di tape recorder kami yang lumayan remuk. Tapi meskipun tingkat ke-bobrok-an tape itu udah mendekati akut, gue selalu terpana kalau mendengar suara John yang crispy-crispy gurih renyah itu. Gue pun menobatkan salah satu lagu band yang gue bahkan ngga tau namanya itu sebagai lagu favorit gue setelah lagu-lagu Anggun C Sasmi dan Ami Search. "Aiiiiii....wil loooop yuuuuu....beybeeeeeeeii..... Ooooolllllweeeesss," itulah sekelumit lirik yang ngga pernah gue lupa.

Cinta itu makin bertumbuh dan berkembang saat melihat John tampil di kotak ajaib ber-merk Panasonic di ruang keluarga kami. Dengan rambut panjang tak tersisir, kaus kutung dan jeans belel, syal dan IKAT RAMBUT!! Waaaaawwww...betapa gantengnya makhluk ituuuu, hahaha..

Cuman, kan waktu itu gue masih TK ya? genit amat ya gue???

2. Kotaro Minami
Pindah ke rumah nenek, gue sudah menginjak masa puber ni kayanya. Waktu itu gue kelas dua SD (huahahah, puber dari manaaaa???). Jaman itu, Ksatria Baja Hitam lagi happening banget!! Dan gue jatuh cinta pada Kotaro Minami (yang baru beberapa saat lalu gue ketahui bernama Tetsuo Kurata.)

Bayangin aja, selain dia itu pembela kebenaran, tampang orientalnya itu emang bener-bener cakep mendekati imut. Derajad kecakepan Kotaro juga bertambah berpuluh kali lipat setiap kali dia ber-priwiiiiit dan berteriak "Belalaaaang Tempuuurrr!!" Hahaha...

Gue ikut deg-deg plass setiap kali sang jagoan harus bertempur melawan Gorgom, si monster ikan pesut jahat berukuran raksasa yang cita-cita utamanya adalah menghancurkan dunia (dan selalu dimulai dari kota Tokyo). "Ayo dooong...keluarin Pedang Mataharinyaaaa," begitu gue kerap membisikkan do'a (alahh..).

Poster? Jangan tanya deh. Berhubung kakak cowok gue juga pecinta KBH sejati, dinding kamar dan dapur (dapur? ya...dapur) dipenuhi sama berbagai pose Kotaro plus bentuknya setelah "Berubah!!" menjadi Ksatria Baja Hitam, KBH RX, dan KBH RX Bio, hihihi...pokoknya mah cinta mati deh! Tapi cinta itu kandas setelah gue mendapati Gundala Putra Petir (ternyata ada versi Indonesianya, hehehe)

3. Ricky Martin
Siapa yang ngga suka cowok latin bercelana ketat yang tau gimana cara untuk 'shake his bom-bom'? Gue versi kelas enam SD nggak bisa nggak horny kalo ngeliat si Ricky beraksi di TV (parah amat ya gue? hehehe). Cinta itu membuncah di video klipnya yang berbahasa latin, Vuelve. Dan setiap tetes air hujan yang menyelimuti tubuh Ricky semakin menambah keseksiannya...

Tapi gue ragu ini cinta, mungkin hanya nafsu semata (halahhh...)



Cheers,
-ajeng-

13.10.08

atonement

Tiba-tiba gue teringat salah satu adegan paling mengesankan di film 'Atonement' yang dibintangi oleh Kiera Knightly dan James McAvoy.

Di sebuah perpustakaan. Dan dua orang yang bercinta. Diam-diam.

Dan keindahan scene cabul itu makin terasa ketika Kiera yang berperan sebagai Cecilia Tallis musti menahan nafas, berusaha tak terdengar, karena keluarganya tengah asyik makan malam, hanya terpisahkan sebuah dinding saja. Karena di jaman itu, medio 1940-an, pengekspresian cinta secara fisik antara dua orang yang tak terikat pernikahan adalah tabu dan terlarang.

Sekarang, mungkin masih. Di Indonesia masih sahih, sejauh yang gue pahami sih... Tapi di Jakarta, sepertinya tidak. Well, at least di deket-deket tempat gue tinggal, di Gang Damai yang tak begitu damai.

Mungkin karena gaya hidup hedon yang serba liar, mungkin juga karena kebebasan itu sudah terlanjur, apapun lah. Namun seks sudah bukan lagi hal yang pantas ditutupi, tidak oleh mata tidak juga oleh telinga. Bebas-bebas aja...

Yang menarik, di pagi harinya yang terdengar dan yang mendengar sama-sama 'act cool', seakan-akan ngga terjadi apa-apa. Seolah-olah tidur salah satu pihak tadi sama sekali tak terganggu dan tersiksa oleh 'kegaduhan' semalam. Tabu-kah untuk menyatakan keberatan, sampai-sampai protes atau teguran kecil itu tak tersampaikan? Atau memang hal-hal macam itu seharusnya disimpan aja atas nama kesopanan?


Menurut gue sih - atas nama kesopanan juga - kalo emang tinggal di bangunan yang kamar-kamarnya berimpit sempit, suara itu harus dipelanin. Ataaaauuuu... disamarkan sama suara radio ato TV. So, everybody's happy, right?


Cheers,
-ajeng-

11.10.08

It's funny how life goes on...

Beberapa minggu yang lalu, gue samar-samar mengingat sepotong percakapan yang terjadi antara gue dan Indradi di depan lift lantai lima. Tentang bagaimana gue, dia, kiki, dhimas, niken, ucup, dan julty mungkin akan terperangkap disini selamanya - sementara nama-nama lain satu per satu mulai melangkahkan kaki ke tempat yang lebih baik-

Kami dulu dipersatukan oleh persamaan nasib, gue rasa. Nasib, dan antusiasme merengkuh pekerjaan pertama selepas kuliah. Jika memang ada yang benar-benar mengikat kami untuk akur, adalah LM, atasan yang membawahi kami.

Satu setengah tahun kemudian, tak ada yang beranjak.






Lalu ada gue.

Hanya dalam hitungan hari, gue akan meninggalkan tempat ini.

Meninggalkan tempat ini......sounds funny....

Mass media is my life. And television is a complete reflection of a perfect- audio visual- kind of mass media. Tapi gue memilih untuk meninggalkannya untuk passion gue yang lain, menulis *in addition to a one way to escape this building*

But life goes on, though i can't help feeling a bit melancholic about it...It's always hard to leave something that we are used to for so long.


Cheers,
-ajeng-